Mereka yang Terbuang

Bersyukur aku bisa hadir di antara anak-anak Panti Asuhan Permata Hati. Di sini aku melihat dan membayangkan langsung bagaimana mereka tumbuh. Memang tidak lama aku dan teman-teman @ilovebogor, @bloggerbogor, dalam program bersama Young on Top #YOTShare2012 berada di antara anak-anak yang terbuang. Hanya dari jam 4 sore sampai dengan jam 8 malam saja. Tetapi interaksi, canda, tawa, cerita, dan wawancara memberikan gambaran yang utuh tentang siapa mereka.

Kenapa aku menyebut mereka yang terbuang? Itulah kesimpulanku atas penuturan Ibu Dina, pengelola Panti Asuhan Permata Hati, saat berbincang di ruang tamu. 90% anak-anak di Panti Asuhan ini diasuh sejak bayi. Bahkan tidak sedikit di antara mereka adalah bayi-bayi yang “terbuang” dari tanggung jawab orang tuanya.

Satu contoh, Ibu Dina menceritakan kisah seorang anak dari Sukabumi yang diserahkan oleh ibunya lantaran takut tak bisa membesarkannya. Sang Ibu yang masih terbilang muda usia, tak benar-benar siap menjadi ibu. Belum juga mengasuhnya, tetapi sudah takut terhadap berbagai resiko karena – lagi-lagi – kemiskinan menjadi alasan utama. Tak ada alasan bagi pengelola Panti Asuhan untuk menolak bayi-bayi yang terbuang. 

Mencelos hatiku saat berbincang dengan salah satu anak dari Panti Asuhan ini. Ia tak tahu siapa orang tuanya. Ia tak tahu siapa ayah dan ibunya. Rupanya sudah sejak bayi ia diasuh di Panti Asuhan ini, seperti kakak-kakak dan atau adik-adiknya sesama anak Panti. Ketakkenalan mereka terhadap orang tuanya ini cukup tajam mengiris hatiku. Kutahan emosi agar tak terlihat luapan kesedihanku atas kisah mereka. Kututupi dengan senyum dan bercengkrama dengan mereka. Kupikir begitu pula yang dirasakan oleh teman-temanku lainnya yang juga berkumpul dan bercanda bersama anak-anak di berbagai sudut aula.

Entah kekuatan apa yang membuat para pengelola Panti Asuhan ini begitu sabar mengasuh anak-anak yang terbuang. Bayangkan, mereka mengasuh sejak bayi hingga dewasa. Di antara anak-anak itu tentu saja memiliki beragam karakter dan perilaku. Ada saja yang lebih agresif dan cenderung “nakal” terhadap saudaranya sendiri. Ada pula yang cenderung tertutup dan malu untuk sekedar menatap sesama. Keragaman karakter dan perilaku itu tentunya merepotkan bagi yang tak memiliki kebesaran hati.

Kebesaran hati para pengelola ini rupanya bukan hanya dalam mengasuh anak-anak, tetapi juga dalam menghadapi masalah yang muncul dari luar Panti Asuhan. Salah satunya adalah saat Panti Asuhan Permata Hati dituduh melakukan jual-beli bayi. Tuduhan sepihak yang dilancarkan oleh seorang ibu muda yang didukung penuh KPAI akhirnya membuat kepolisian menggrebek Panti Asuhan ini (2010). Namun kebenaran tetap harus berjalan. Oknum KPAI yang arogan dan sering membentak-bentak pengelola Panti, oknum dinas sosial yang hanya bisa menuduh, dan mereka yang melaporkan ke kepolisian setempat, bahkan media TV yang ramai menayangkan berita “Dugaan Penjualan Bayi” yang akhirnya tak terbukti itu, kini tak pernah lagi berani hadir ke Panti Asuhan Permata Hati. Bahkan jika mau ditelusuri, kasus tuduhan tersebut belum tuntas. Mereka yang menuduh dengan arogan akhirnya malu dan tak punya muka untuk mengakui kesalahannya.

Tapi, sudahlah. Lebih baik kita kembali kepada perbuatan yang lebih bermanfaat. Lupakan saja mereka yang nyinyir dan membenci para pengasuh Panti Asuhan ini. Lihat saja langsung bagaimana mereka mengelola, bagaimana mereka mengasuh anak-anaknya, dan bagaimana anak-anak begitu mencintai “orang tua asuhnya” di sini. Terutama terhadap Mbah Sukatmah, yang telah mengabdi lebih dari 20 tahun dalam mengasuh bayi-bayi Panti Asuhan Permata Hati (foto di bawah).

Bagi teman-teman yang ingin membantu, bisa menghubungi Ibu Dina, pengelola Panti Asuhan Permata Hati. Datang saja ke Jl. Musholla No.41 Kampung Kaum RT.04 RW.05 Ciparigi, Bogor Utara.

Inilah sedikit foto tentang mereka. foto lainnya bisa dilihat di facebook/twitter teman-teman yang hadir di sana, dengan hashtag #YOTshare2012


“Bukber Bersama Anak-anak Panti Asuhan #YOTshare2012”

From Permata Hati, posted by Galeri Koleksi on 8/12/2012 (9 items)

Generated by Facebook Photo Fetcher


8 thoughts on “Mereka yang Terbuang

  1. Ada pelajaran penting lain yang jangan sampai luput dipetik: Apa yang membuat Ibu Dina dan sejumlah orang lainnya di sana berani memutuskan diri menjadi pengasuh bagi anak-anak terbuang itu? Menatap anak-anak itu memang akan selalu membuat hati trenyuh. Namun, mereka membutuhkan solusi untuk masa depannya. Dan, ibu Dina, telah menempatkan diri sebagai pemberi solusi itu..

    1. PS: ya, ibu Dina dan yg lainnya hanyalah perantara yg menautkan anak-anak dengan irang2 terpilih yg menyampaikan solusi buat masa depan mereka. Semoga saja makin sedikit anak-anak yg terbuang… uh, jadi ingat anak-anak kita pula! 🙁

  2. subhanallah sebuah permenungan yang terselip nasihat mulia untuk dibaca,semogga Allah selalu menjaga mereka mereka yang rela mengasuh anak2 yatim

  3. The loss of a part of muscle performance will lead to the tarsoptosia. Wearing the inappropriate shoes, such as high heels also can cause valgus and ankle bone spurs. The structure of MBT sole is used for creating a kind of natural but uneven status.

Menurutmu?

%d bloggers like this: