Menepi Lalu Kembali

Seberapa jenuh hidup yang kita jalani. Seberapa berat beban yang menghimpit perasaan? Kita tak perlu menjawabnya dengan angka. Cukuplah anggukan sebagai tanda bahwa kita pernah mengalami kejenuhan dan rasa terhimpit oleh rutinitas. Meski begitu, jangan juga melupakan kebaikan, kenikmatan, dan kebahagiaan yang kita alami dalam persliweran hidup.

Aku pun mengalami kejenuhan, jengah, sedih, bosan, bahkan kemarahan sporadis yang terakumulasi. Namun pada saat yang tepat, kuterima tawaran dari teman-teman penikmat Yoga. Mereka mengajak untuk memasuki suasana hening. Aku lebih akrab dengan sebutan menyepi dan menepi. Kusambangi mereka tanpa prasangka. Bahkan aku tak berpikir akan mendapatkan apa-apa selain menyepi, mendamaikan hati agar bisa kembali dalam persliweran hidupku.

Saat senja tak sedikit pun menyisakan jingga, aku lebur dalam cengkrama. Paparan menyempurnakan pertanyaan. Tanya menerbitkan pemahaman. Paham melentingkanl kesadaran, kita adalah bagian dari kehidupan. Kita tak bisa memungkiri kenyataan, bahwa hidup bukan hanya soal hitam-putih,siang-malam, terang-gelap, perang-damai, kalah-menang. Ada satu hal yang kerap kita lupakan, yaitu kita bagian dari harmonisasi semesta. Kita tak pernah benar-benar bisa mengingkari Tuhan, Cinta, dan Budi pekerti.

Lho, katanya menyepi, menyendiri, menepi. Koq ada dialog? Itulah kenyataannya, kita tak pernah benar-benar sendiri. Selalu ada apa pun yang menemani, teman bahkan Sang Kekasih Maha Pecinta. Bahkan saat kita benar-benar sendiri secara fisik, boleh jadi ada orang di lain ruang yang berdoa, menyelaraskan cinta walau tak terasa. Meskipun tak sendiri namun tetaplah perbincangan dikembalikan ke dalam diri. Menjadi renungan, cermin, dan spirit untuk mengabukan energi negatif dan kontaminasi. Raga, pikiran, dan perasaan menyelaras dalam kontemplasi.

Kontemplasi bukan berarti membutakan diri dari lalu-lalang, bukan menulikan diri dari kebisingan. Kita bukan patung yang seolah tak memiliki kepekaan. Kontemplasi adalah belajar beradaptasi dari segala keriuhan, desiran, bisikan, dan apapun yang melingkupi hidup kita. Kontemplasi juga bukan ritual yang melayangkan kita pada perasaan lebih suci, lebih baik, naik level, dan segala kebanggaan yang membuat kita pongah. Kontemplasi adalah penyadaran atas kedirian; pikiran, perasaan, dan raga, sehingga tak patut disandingkan apalagi dibandingkan dengan sesama.

Ada baiknya kontemplasi menjadi selalu, bukan hanya ketika. Jai guru deva Om.

 

Across The Universe (John Lennon)

Words are flying out like

endless rain into apaper cup

They slither while they pass

They slip away across the universe

Pools of sorrow waves of joy

are drifting through my open mind

Possessing and caressing me

Jai guru deva om

Nothing’s gonna change my world

Images of broken light which

dance before me like a million eyes

That call me on and on across the universe

Thoughts meander like a

restless wind inside a letter box

they tumble blindly as

they make their way across the universe

Jai guru deva om

Nothing’s gonna change my world

Sounds of laughter shades of life

are ringing through my open ears

exciting and inviting me

Limitless undying love which

shines around me like a million suns

It calls me on and on across the universe

Jai guru deva om

Nothing’s gonna change my world

Nothing’s gonna change my world

Nothing’s gonna change my world

Nothing’s gonna change my world

Jai guru deva

Jai guru deva

3 thoughts on “Menepi Lalu Kembali

Menurutmu?

%d bloggers like this: