Liburan Lebaran

Senangnya Nawi hari ini. Lebaran hari kedua, seperti janjinya dengan teman-teman NKOTB, ia akan terbang ke Jogjakarta. Berdasarkan tiket yang sudah dipesan Nawi seminggu yang lalu, mereka akan berangkat hari ini. Semalam Nawi sudah menelpon Brohim, O-Jack, dan Karim. Ketiganya tak membatalkan rencana. Mereka janjian bertemu di Bandara Sukarno-Hatta. Nawi selalu jadi orang pertama yang datang tepat waktu. Itu sudah jadi tradisi. Jadwal Boarding pukul 10.15 WIB., Nawi sudah stand by di Terminal Keberangkatan Domestik sejak pukul 08 teng!

Sekarang sudah pukul 08.55 WIB. Belum ada satupun dari ketiga temannya yang kelihatan batang hidungnya. Nawi cemas. Iapun menelpon ketiga temannya satu per satu.

Dicarinya nama Karim pada phonebook telepon genggamnya. Nada tunggu terdengar…

“Halo? Assalamu’alaikum, Wi!” jawaban Karim terdengar di speaker telepon genggamnya.

“Dimane lu? Lama amat! Udah jam berape nih? Cepetan dong! Kalo telat mampus lu!” Burunya.

“Tenang aje, gue lagi di ojeg…” jawab Karim.

“Kebiasaan lu! Rumah lu kan deket dari sini! Mestinya elu yang nongol duluan!” Protes Nawi. Rumah orang tua Karim memang bertetangga dengan kawasan Bandar Udara Sukarno-Hatta. Tepatnya di Tegal Alur, Cengkareng.

“Jiaah elu, Wi. Justru karena rumah gue deket, gue baru naek ojeg sekarang! Udah sewajarnyalah elu yang sampe duluan, kan rumah lu jauh di Serang.” Karim tak mau kalah.

“Ya udah! Cepetan!!!” Nawi langsung memutuskan hubungan dengan Karim dan langsung menelpon Brohim.

“Dimane lu, Bro?”

“Tenang aje, boss… gue lagi santai nih…” Jawab Brohim.

“Gila lu ye! Dari Bekasi jam berape lu, gini hari masih santai?”

“Et dah, tentang aje, boss… gue lagi santai di DAMRI nih. Udah masuk Bandara… tenang aje..”

“Sialan lu! Gue kira masih kelonan sama emak lu. Ya udah gue tunggu depan terminal!”

Giliran menelpon O-jack…

Sudah tigakali ia menelpon sahabatnya yang paling bangor itu. Tapi yang menjawab masih saja Veronica, robot penyedia layanan seluler. “Sialan, mailbox terus!” Nawi gundah.

Untuk melupakan kekesalan karena ketiga temannya belum juga datang, Nawi jalan-jalan ke kios Koran dan majalah. Ia membeli tabloid olahraga kesukaannya lalu kembali lagi menyandar di tembok depan terminal, di sebelah restoran franchise dari Amerika.

Sudah ada Karim dan Brohim di situ. “Gimana? Mana si O-Jack?” Tanya Brohim menyambut Nawi.

“Tau tuh anak. Teleponnya mailbox terus.” Jawab Nawi sambil tetap membaca berita tentang klub kebanggaannya, Chelsea yang masih mengincar striker tambahan.

“Toilet di mana sih?” Tanya Karim yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Bandara. Meskipun bertetangga, ia belum pernah sekalipun main ke Bandara.

“Tuh, lu liat gak ada gambar cowok-cewek di ujung, tuh!” Nawi melipat tabloidnya. Karim mengangguk, “Nah lu ikutin deh. Ntar lu cari yang tulisan Gent. Baru dah lu masuk dan selesaikan urusan lu di situ!” Jawab Nawi, masih terlihat kesal karena O-Jack belum juga datang.

“Tiketnya berapa, Wi?” Tanya Brohim yang siap mengganti uang talangan Nawi.

“Nanti aje di Jogja! Sekarang mah yang penting kita kumpul dulu, berangkat, baru deh kalo sampe Jogja kita transaksi.” Begitulah Nawi. Ia tak pernah mau repot urusan hutang-puitang. Maklum Nawi adalah anak emas emaknya. Berapapun uang yang dimintanya, pasti dipenuhi oleh Emak tercinta.

“Udah kontak Tatox?” Tanya Brohim lagi.

“Udah. Dia jemput kita di Bandara jam 12 siang. Trus kita langsung ke rumah kontrakannya.”

“Lha? Dia ngontrak? Katanya anak orang kaya?” Brohim terkejut.

“Bukan cuma kontrakan. Babenya juga punya hotel dan restoran!”

“Oh, gue kira rumahnya ngontrak!”

“Udah diem lu! Ntar kedengeran Karim nggak enak. Kan rumah emaknya, kontrakan!” Nawi tak ingin Karim tersinggung karena di antara sahabatnya, hidupnya paling miskin. Meskipun Karim adalah sahabat yang paling pintar.

Karim kembali lagi dari toilet. Tapi tidak sendiri. Ia menuntun seorang lelaki muda berkepala botak. Matanya sayu, seperti orang yang baru bangun tidur. “Gila luh! Ketemu O-Jack di kamar mandi?” sambut Nawi.

“Hehehe…. Dia tidur di toilet! Mana nggak dikunci!” Lapor Karim.

“Ngapain lu tidur di toilet, Jack?” Tanya Brohim.

“Hoaaahhhhmmm….” O-Jack menguap. “Lu kagak tau ye. Gue udah nongol di mari dari jam 6 pagi. Capek banget gue nungguin lu pade. Trus perut gue mules. Ini lantaran gue kagak sempet makan lontong sayur langganan gue di Manggarai. Lah, abis boker, gue ngantuk. Jadi mending gue tidur aja di toilet, enak sepi…”

“Handphone lu kenapa dimatiin?” Protes Nawi.

“Siapa yang matiin! Handphone gue mati, kecebur di wastafel! Sialan dah!”

“Pantes aje lu gak bisa ditelpon. Gue sampe khawatir…” balas Nawi.

“Iye. Tadi pas gue cuci muka. Eh telpon gue loncat dari kantong ke wastafel. Ya, kerendem deh… Emang nasib!” cerita O-jack.

“Ya udah, soal telepon gampang. Nanti kita cari yang baru di Jogja. Itung-itung oleh-oleh dari Jogja.” Hibur Nawi kepada teman yang sempat dikhawatirkannya itu. Merekapun bergegas ke ruang tunggu pesawat.

*****

“Matikan HP. Kita mau naik ke pesawat sekarang!” Nawi mengingatkan ketiga temannya. Sambil menuju antrean pengecekan tiket menuju koridor pintu masuk pesawat terbang.

“Matiin HP, Jack!” Karim mengulangi pernyataan Nawi sambil berkirim senyum ke Brohim.

“Sekali lagi ngoceh, gue hajar lu!” O-jack masih kesal dan berduka karena telepon genggam warisan ayahnya mati mendadak di wastafel tadi.

“Hehehe… udah lah, Rim. Lu iseng banget. Itu HP kan bakalan diganti sama Nawi. Lagian emang udah saatnya HP bulukan itu mati. Ya kan, Jack?” Brohim menepuk-nepuk pundak O-Jack.

“Gue nggak ngerti dah. Maksud lu menghibur atau menghina gua…” O-jack berpikir keras mencerna perkataan Brohim.

“Tergantung dari kebersihan hatilu, Jack. Kalo hati lu bersih, pasti omongan gue jadi hiburan buat lu. Ya nggak, Rim…” Brohim mengerdipkan mata kepada Karim yang berdiri di belakangnya.

“Ada juga HP-nya yang bersih karena abis berenang di wastafel. Hehehe…” Aneh, nggak seperti biasanya Karim jadi iseng begini. Apa karena ini pengalaman pertamanya terbang?

“Sekali lagi ngoceh, gue gampar lu ye!” O-Jack benar-benar kesal mendengar ocehan Karim. Untung saja Brohim berada di antara mereka dan memegangi pundak O-jack sambil tetap tersenyum geli karena ocehan Karim.

“Sabar Jack! Orang sabar disayang Tuhan!” Brohim menasehati sahabat di depannya.

“Udah! Berisik lu ah. Nggak sadar diliatin semua orang lu?” Nawi mengingatkan ketiga temannya.

Semua orang yang berada di sebelah antrean terlihat memperhatikan ketiga remaja yang berisik itu. Ada ibu-ibu yang cemberut sambil menenteng tas batik. Ada bule yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada yang senyam-senyum nggak jelas. Ada juga yang nyeletuk, “Baru kali ini di Bandara ada siaran langsung lenong ya…”. Bahkan ada juga yang menyela, “Norak! Kampungan banget sih tuh orang!” tapi tak terdengar oleh O-jack dan teman-temannya.

Selesai memperlihatkan tiket, merekapun menelusuri koridor menuju pesawat. Nawi, O-Jack, Brohim, dan Karim. Berjalan beriringan.

“Jangan lupa, kita berdoa dulu. Ingat doa naik pesawat nggak luh?” Brohim mengingatkan.

“Lha emang ada tuntunan doa naek pesawat?” protes Nawi. Langkahnya terhenti sejenak mengingat-ingat hafalan doa dalam pengajian waktu masih SD di musholla depan rumahnya.

“Ya ada. Kan sama aje kayak doa naek kendaraan.” Jelas Brohim.

“Oh, sama aja. Ya udah. Mending kita doa bareng aja. Lu yang pimpin ya, Bro!” Pinta Nawi.

“Bilang aje lu kagak hafal, Wi!” Karim paling hafal gelagat Nawi kalau tak hafal doa.

“Hehehe… Berdoa, mulai…!” Brohim memberikan intruksi sambil tetap menelusuri koridor.

“Jiaaah… lu! Jangan gitu dong. Mustinya lu yang baca dari awal sampe akhir, ntar kita tinggal aminin aja!” Nawi protes.

“Hehehe… jadi lu masih nggak hafal juga pelajaran TK?” Brohim puas jika melihat kelemahan Nawi.

“Gue nggak pernah masuk TK. Jadi nggak belajar doa begituan.” Nawi beralasan.

“Udah! Tinggal berdoa aje pake ribet banget lu bedua! Udah mau sampe pesawat nih… ” O-jack ikut campur. Matanya menatap dua orang pramugari yang tersenyum di ujung pintu. “Ya ampuuun, itu Sabina? Cakep banget!” spontan kalimat pujian keluar dari mulut O-jack.

“Jadi berdoa nggak kita?” Karim mengingatkan sambil mendorong punggung Brohim.

Di depan dua orang pramugari, mereka berhenti melangkah. Semua mengangkat kedua tangannya. Brohim memimpin doa sebelum naik pesawat terbang. Ketiga temannya mengamini di akhir doa. Dua orang pramugari tersenyum memperhatikan keempat makhluk Tuhan yang akrab ini. Setelah mendapatkan sapaan ramah, keempat sahabat itupun mencari tempat duduk sesuai tiketnya.

O-jack mendapat kedudukan paling pinggir sebelah jendela, kursi 17F. Nawi 17E, Brohim 17D. Mereka bertiga sebangku sejajar. Karim duduk di kursi seberang Brohim, 17C. “Wah, curang lo. Masa gue sendirian? Tuker, Bro!” Protes Karim.

“Ah, enak aje. Rezeki orang beda-beda, Rim. Lu harus bisa menerima rezeki apa adanya. Jangan protes.” Brohim enggan bertukar tempat duduk dengan Karim.

“Kenapa sih, Rim? Dari pada di sini lu deket O-jack, nanti malah berisik lu!” Nawi menyudahi protes Karim.

“Tau lu, bilang aje lu takut sendirian!” O-jack merasa di atas angin. Ia merasa puas melihat Karim yang panik duduk tidak bersama dengan orang yang dikenalnya. O-jack tahu kalau baru kali ini Karim naik pesawat terbang. Kelihatan dari tampang Karim yang pucat. Padahal ia juga baru pertama kali naik pesawat terbang. Tapi karena ia tak mau kelihatan takut, ia berusaha menutupi ketakutannya dengan lebih banyak mengulang doa dalam hati, “Ya Allah, jangan sampe kecelakaan!

“Sabar, Rim. Penerbangan kita Cuma 40 menit. Sebentar doang! Nggak akan berasa lama deh!” Nawi menenangkan sahabatnya.

“Permisi, bisa geser sedikit. Kursi kami 17A dan 17B.” Tiba-tiba seorang cewek cantik menyapa Karim. Seorang lagi menebar senyum manis kepada Karim.

Karim spontan berdiri memberikan jalan agar kedua cewek cantik lagi sopan itu, mendapatkan tempat duduk di sebelahnya. Karim makin pucat. Ia menunduk, meminta sesuatu kepada Brohim, “Bro, tuker, Bro! Kan lu enak bisa kenalan sama dua cewek cakep itu!”

“ng… gimane ye… tunggu, Rim. Gue pikir-pikir dulu… “ Brohim pura-pura jual mahal.

“Please, Bro!” Karim memohon.

“Tuker sama gue aje, Rim! Gue siap nolong lu!” O-jack berubah menjadi serigala berjubah putih.

“Jangan!” Nawi melarang. “Biar Karim yang di situ. Gue kuatir lu ngegangguin itu cewek, Jack!”

“Jiaah elu, Wi. Orang mau berbuat baik malah dihalang-halangi…” O-jack kesal.

“Yuk, Jack, tukeran!” Karim mengharapkan O-Jack beranjak. Tapi tangan Nawi menahan O-jack agar tetap duduk.

Seorang pramugari menegur Karim, “Ada yang bisa kami bantu? Coba lihat tiketnya?” Karim memberikan tiketnya kepada Pramugari yang menyapanya dengan sopan. “17C, Silakan duduk di sini… Jangan lupa kenakan safety belt ya…” Seperti korban hipnotis, Karim mengikuti semua perintah pramugari hingga ia duduk tertib dan memasang tali pengikat tubuh.

Brohim dan Nawi cekikikan melihat nasib Karim. Mereka berdua tahu kalau Karim paling grogi berdekatan dengan perempuan cantik. Kehebatannya di kelas, kepintarannya dalam semua pelajaran, melesat sirna jika sudah berada dekat perempuan. Karim langsung menjelma seperti sapi laper yang belum buka puasa 3 hari.

Sementara O-jack masih menatap Karim dan memberi isyarat pertukaran kursi. Tapi Brohim menghalangi wajah Karim dengan majalah yang terselip di depan kursinya. Nawi pura-pura tidur dengan tangan mengapit tangan O-jack, menghalangi kesempatan O-jack berpindah tempat.

Di depan tempat duduk, menyala TV ukuran kecil yang menampilkan informasi menikmati penerbangan dengan aman dan nyaman. Pesawat siap tinggal landas menuju Bandara Adi Sucipto, Jogjakarta.

O-jack memejamkan kelopak matanya. Mulutnya komat-kamit. Kedua tangannya memegang erat sandaran lengan kursi. Nyata sekali ketakutan dari geliat tubuh dan raut wajahnya. Brohim memperhatikan dan komentar, “Perasaan tadi kita udah doa bersama. Kenapa O-jack komat-kamit lagi? Baca doa apaan dia?”

“Nggak tau. Paling lagi menghafal nama-nama menteri Kabinet yang bakal dibubarin…” Nawi menimpali sekenanya. Sementara konsentrasi O-jack tak terganggu oleh ejekan kedua teman di sebelahnya itu.

Beda dengan Karim. Ia terlihat seperti orang tidur pulas. Tapi gemeretak gigi gerahamnya terdengar sampai ke telinga Brohim. “Masih makan permen lu, Rim? Bagi dong!” tegur Brohim sambil nyengir kuda.

Yang ditanya tak menjawab. Menolehpun tidak.

2 thoughts on “Liburan Lebaran

Menurutmu?

%d bloggers like this: