LDR a la Kuli

Long Distance Relationship bukan hanya soal hubungan antara kekasih yang menjalin asmara berjarak tempuh jauh. Membincang soal itu sudah biasa. Tak sedikit kicauan di media sosial yang mencurah-hatikan LDR. Aku sekadar share LDR di kalangan kuli.

Kenapa kuli? Kenapa juga memilih kata kuli untuk mereka yang kulihat bekerja di proyek bangunan? Simpel saja. Memang kata itulah yang lazim disebutkan buat mereka yang kadang disebut pekerja bangunan. Apakah pemilihan kata kuli merendahkan martabat mereka? Kupikir tidak juga. Perendahan martabat tak selalu terwakili lewat sebutan. Lagi pula bukan soal itu yang akan kuceritakan. Bukan soal martabat, tetapi lebih tentang tanggung jawab mereka terhadap keluarga.

ku·li : orang yg bekerja dng mengandalkan kekuatan fisiknya (spt membongkar muatan kapal, mengangkut barang dr stasiun satu tempat ke tempat lain) pekerja kasar: aku minta dicarikan — pengangkut barang;

Aku bertemu dengan sekelompok kuli bangunan di Bali. Selama 5 hari di Nusa Dua, selalu bertemu mereka saat jeda ngopi. Di saat jeda aku memang memilih ngopi dan menyemburkan asap di ruang terbuka. Di luar gedung. Lebih asyik dibandingan di smoking room.

mtf_XgmfQ_468
Ada yang mengisi waktu rihat dengan tidur, melamun, dan menghubungi orang yang dicintai, bahkan sekadar memandangi foto sang kekasih.

Yang bikin tambah asyik, ya bertemu dengan mereka yang sedang beristirahat di tengah hari. Para kuli bangunan itu enak diajak berbincang dan bercanda. Lagi pula aku sering mendapatkan insight dari mereka yang terlihat biasa-biasa saja.

Satu momentum yang berkesan adalah saat salah seorang dari mereka berbincang dengan anaknya via telepon. Anaknya di kampung. Di Jawa. Setiap istirahat kerja Mas Mo (begitu ia disapa) selalu menyempatkan diri menghubungi keluarganya.

“Sesibuk apapun kita, sempatkan nelpon anak-istri. Itu yang bikin aku selalu semangat kerja di manapun.” Ucapnya.

mtf_XgmfQ_507

Begitulah cara Mas Mo menjaga hubungan dengan keluarga yang ia tinggal jauh dan lama. Ia sanggup memanfaatkan kerinduan sebagai penjaga semangat bekerja.

“Siapa lagi yang bisa dibanggakan sama anak, kalau bukan ayahnya sendiri?” Aih, ungkapan Mas Mo yang sangat nancep di hatiku.

Menurutmu?

%d bloggers like this: