Kopi Khas Bogor

Sebelum menetap di Bogor, aku jarang minum kopi. Paling seminggu hanya 3 gelas saja. Itupun harus kopi bermerk yang rasa dan harganya cocok di lidahku. Tetapi setelah mengetahui pemanisnya tak memakai gula tebu, sebagai penyebabku terserang migrain, aku pun melupakan kopi merk tersebut selamanya.

Sempat juga aku pindah ke kopi yang dipasarkan secara MLM. Kopi yang digadang-gadang berkhasiat untuk stamina itu menjadi kopi yang spesial bagiku. Campuran antara kopi dan ganoderma menambah rasa pahitnya pekat. Bukan cuma itu. Aromanya juga memelekkan mata. Tetapi tak bisa lama kunikmati kopi MLM itu karena harganya memang lumayan tinggi. Maklumlah. 

Setelah pindah ke Bogor di hari terakhir tahun 2008, aku mulai berpindah ke lain hati. Kopi yang memikat seleraku adalah kopi yang dibuat oleh keluarga keturunan Tionghoa di Sukasari. Menurut literatur, wilayah itu merupakan Pecinan-nya Bogor. Pertama kali lidahku merasakan nikmatnya kopi khas bogor itu saat disuguhkan oleh ustadz Iqbal Harafa, pimpinan pesantren Daarul Uluum, Bogor. Kopi itu bermerk Kopi Liong Bulan.

Kemasannya ada dua macam. Retro dan Modern. Namun kedua kemasan tersebut tidak membedakan rasanya yang nikmat. Kopi bergambar seekor naga sedang menyemburkan api ke bulan ini bertekstur kasar. Jika diseduh dengan air mendidih, tak ada satupun butiran kopi yang mengambang di permukaan gelas. Ini menandakan biji kopi pilihan tanpa campuran jagung atau apapun yang mengurangi cita rasa kopi.

Saran terbaik untuk penyajian adalah menyeduhnya dengan air mendidih yang baru dimasak. Jangan langsung diaduk, tapi biarkan dulu kira-kira 3 menit agar kopinya matang. Itu merupakan cara yang lazim diketahui oleh para penikmat kopi.

Harganya? Dijamin murah. Anda yang biasa ngopi di cafe bergengsi dengan harga minimal 15 ribu/cangkir pasti akan terkejut jika mencicipi kopi seharga Rp.800,- sebungkus! Pada kopi khas Bogor ini yaitu Kopi Liong Bulan, ternyata harga tidak mempengaruhi cita rasa. Tetap lebih mantap ketimbang kopi mahal.

Sebenarnya ada satu rahasia yang membuat Kopi Liong Bulan menjadi lebih nikmat disruput. Pada postingan berikutnya akan kuumbar.

 

12 thoughts on “Kopi Khas Bogor

  1. Wah, kejauhan ngebahasnya loe, ah! Kalau urusannya di bawa ke wilayah psikologis-spiritual semacam itu, bukan hanya kopi yang rasanya jadi tidak enak. Dunia dan segala isinya pun akan menjadi tidak enak dan tidak nyaman… 🙂

  2. Ah, salah tempat saat menginput komentar, nih. Harus di artikel satunya lagi. Bisa tolong pindahkan tidak, Te?… 🙂

Menurutmu?

%d bloggers like this: