Hanya Saat Begini, Bebas Berimajinasi

Masih pentingkah menjawab pertanyaan, masih ngeblog, untuk apa ngeblog, dan apa yang didapat dari blog?

Beberapa temanku mungkin hanya akan tersenyum mendapatkan pertanyaan seperti itu. Senyum yang menyiratkan beragam anggapan. Ada yang senyum karena memang sudah merasa tak butuh lagi media berujud blog, ada juga yang senyum karena “nyadar”, sudah zaman virtual kayak gini kok masih juga ngeblog.

Meskipun penting-gak-penting, kalau kita melihat blog sebagai alat untuk mendokumentasikan pengalaman, mengikat ingatan, atau mengukir perasaan, tentu saat butuh akan memanfaatkan blog. Beda bagi mereka yang sudah moving ke teknologi terbarukan, menemukan platform yang dianggap lebih pas dengan kemampuannya saat ini, lebih mudah dilakukan, simpel dimainkan, maka akan berat untuk kembali mengingat password login blognya 🙂

Seperti hari ini. Aku lagi enggan bikin konten video yang defaultnya aku sebar melalui platform Helo. Kondisi fisik juga lagi nggak enak dilihat. Video terakhir kemarin Wadas Melawan pun menerima satu komentar yang paling berasa ketimbang komentar caci-maki lainnya, “Mandi dulu, bro!” hahaha….

Update video batal. Rencananya mau update podcast aja, melalui anchor.fm. Enak, kan bisa sambil tiduran sehabis menenggak 8 butir Favipirapir tapi ternyata gagal juga. Baru mau rekaman, lewatlah “parabot, parabot,” abang-abang yang biasa jualan BOT, berjeda sedikit, lewat “zupa, zupa, pisang selimut, macaroni schotel….”, tak lama berselang, “tape tapeee….”, “yuuuuuuuuuuuuuuuur…” teriakan khas kang sayur. Sabar menunggu akhirnya cukup hening. Mulailah merekam… “jagung-manis jagung manis, susu keju, susu keju… makanan sehat keluarga Indonesia…..”

Akhirnya kuputuskan, yawdalah mending gue nulis aja di blog!

Kangen juga rupanya menulis di blog. Sebising apapun suasana di sirkel kita, tak akan jadi noise. Apakah terdistraksi setelah hampir 2 bulan tak update blog? Ya jelas. Saat mengetik pun pikiranku mengembara ke masa lalu. Masa ketika ke mana-mana selalu membawa notes untuk mencatat apa yang aku alami. Diary. Terbayang suasana saat menulis dengan pulpen merk pilot. Bergeser ke zaman PC, saat diary berpindah ke disket kecil, pindah lagi ke lorong warnet yang menu timernya selalu membuat degdegan karena durasi sewa menipis, sampai ke zaman yang lebih mudah mengekspresikan diri melalui blog.

Ternyata satu hal ini yang tak kuadapatkan ketika membuat konten video/podcast dibanding ngeblog. Sambil ngeblog atau menulis, imajinasi bisa melayang melintas bebas. Kangen nggak sih sama pengembaraan imajiner semacam ini?

Menurutmu?

%d bloggers like this: