Daya Tarik Bali

Menurutmu, apa yang menarik dari Pulau Bali? Setiap orang boleh jadi punya motivasi berbeda saat bermimpi bisa ke Bali. Ada yang ingin sekadar berlibur ke Bali hanya karena nama Bali mengesankan keren dan wah. Ada juga yang menyukai Bali karena wisata pantainya, karena pesona persawahan, gunungnya, danaunya, dan segala eksotisme alamnya. Ada juga yang menyukai perempuannya. Konon perempuan Bali amat memesona. Banyak turis yang mengakui daya tarik perempuan Bali, selain budaya dan tradisinya.

Kunjunganku ke Bali 23-25 Maret 2013 memang bukan untuk liburan tetapi untuk meninjau pelaksanaan CSOs Preparatory Meeting terkait MDG (Millenium Development Goals). Mereka para aktivis Global Civil Society Organisation berupaya mendorong proses yang mencerminkan multi-stakeholder participatory demi program yang transparan dan akuntabel untuk Post MDG 2015. Karena itulah, aku tak sempat jalan-jalan menikmati beragam pesona Bali. 

Namun tetap saja sebagai blogger yang demen mendalami kearifan lokal suatu daerah, aku mencuri pandang sebisanya. Mencari berbagai hal yang menarik buatku sendiri, memotretnya, lalu merenungkannya sebagai penambah wawasan. Saat rihat makan siang, Mas @donnybu mengajakku makan di luar hotel Goodway. Kebetulan kami sama-sama kurang menyukai masakan hotel. Kami pun berangkat ke kompleks Nusa Dua, mencari tempat makan yang juga bisa menambah suasana santai.

Saat menunggu makanan yang kami pesan itulah, aku minggat sebentar mendekati sebuah Sanggah Kembulan, tempat sembahyang yang selalu tersedia di setiap keluarga. Sebuah penjor (tiang hiasan yang terbuat dari daun kelapa/janur) adalah obyek pertama. Yang membedakan dengan penjor di daerah lain, penjor yang dibuat masyarakat Bali biasanya ada Canang, sebuah wadah yang juga terbuat dari janur kelapa tempat menaruh sesaji.

 

Di dalam Sanggah Kembulan (bangunan khas tempat sembahyang masyarakat Hindu Bali), kuperhatikan seorang perempuan muda khidmat berdoa. Ia mengangkat dan meletakkan canang. Asap dupanya menebar wangi. Satu hal yang kulihat dari perempuan muda itu adalah, tetap melakoni tradisi spiritual yang diimaninya. Satu hal yang jarang terlihat pada kalangan remaja di kota-kota besar yang “nyaris” melupakan warisan spiritualnya sendiri.

Aih, sepasang burung merpati hinggap di tembok Pura dan mematuki sesaji. Kehadirannya memantik kesadaranku tentang betapa lekatnya hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Masyarakat Bali selalu menjaga warisan spiritualnya, terutama dalam melakoni konsep Tri Hita Karana; menjunjung hubungan antara Manusia, Alam, dan Tuhan. Tri Hita Karana diyakini sebagai penjaga dan penumbuh kebahagiaan dan kesejahteraan.

Hakikat ajaran Tri Hita Karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan menghindari dari pada segala tindakan buruk. Hidupnya akan seimbang, tenteram, dan damai. Boleh jadi itulah yang menjawab pertanyaan kenapa masyarakat Bali mampu melestarikan keragaman budaya dan lingkungan meskipun dirambah arus globalisasi. 

Sejak kecil orang tua kami menanamkan keluhuran warisan tradisi spiritual Bali. Jadi meskipun banyak turis datang ke Bali, dengan beragam latar belakang budaya dan agama, kami tetaplah orang Bali.” tutur perempuan muda saat kutanya usai berdoa.

Pernyataan perempuan muda itu menyentak kesadaranku, betapa peran keluarga dalam memegang teguh dan mewariskan keimanan kepada anak-cucunya amatlah penting. Itu pula yang mungkin menjawab pertanyaanku, kenapa masyarakat Bali sanggup menjaga warisan spiritualnya secara turun-temurun. Dari keluargalah semua itu bermula.

Bali. Aih, sudah sepantasnya menginspirasi setiap orang untuk melestarikan warisan budaya dan spiritualitasnya, sehingga tetap kental dan toleran terhadap keberagaman manusia.

[pe2-image src=”http://lh4.ggpht.com/-U0Qw_j4UG5I/UU89IMuMR1I/AAAAAAAACOM/mk8GQ3MCft8/s144-c-o/b3.JPG” href=”https://picasaweb.google.com/108950141967760871064/SpiritualitasBali#5858968851295520594″ caption=”” type=”image” alt=”b3.JPG” ] [pe2-image src=”http://lh4.ggpht.com/-cjlbwKLg9AE/UU89Jtomy5I/AAAAAAAACOU/3UPuEcS8-uY/s144-c-o/b1.JPG” href=”https://picasaweb.google.com/108950141967760871064/SpiritualitasBali#5858968877310331794″ caption=”” type=”image” alt=”b1.JPG” ] [pe2-image src=”http://lh4.ggpht.com/-svCRXfFis1w/UU89Lt–rGI/AAAAAAAACOk/gSnTWWD9vKQ/s144-c-o/b4.JPG” href=”https://picasaweb.google.com/108950141967760871064/SpiritualitasBali#5858968911763909730″ caption=”” type=”image” alt=”b4.JPG” ] [pe2-image src=”http://lh5.ggpht.com/-_ttDVWT0Q8Y/UU89MX_IugI/AAAAAAAACOs/O6ZMecaVkGM/s144-c-o/b5.JPG” href=”https://picasaweb.google.com/108950141967760871064/SpiritualitasBali#5858968923038857730″ caption=”” type=”image” alt=”b5.JPG” ] [pe2-image src=”http://lh4.ggpht.com/-T_l_w6gQV_s/UU89NiEutfI/AAAAAAAACO0/Fjs5Xbevsxw/s144-c-o/b7.JPG” href=”https://picasaweb.google.com/108950141967760871064/SpiritualitasBali#5858968942926542322″ caption=”” type=”image” alt=”b7.JPG” ] [pe2-image src=”http://lh3.ggpht.com/-E8Unj3uXg1Q/UU89O8dMdgI/AAAAAAAACO8/_ByRY9-ss2Q/s144-c-o/b9.JPG” href=”https://picasaweb.google.com/108950141967760871064/SpiritualitasBali#5858968967188346370″ caption=”” type=”image” alt=”b9.JPG” ] [pe2-image src=”http://lh4.ggpht.com/-prArkL9w9fs/UU89Qv_CBFI/AAAAAAAACPE/fR9TPS0fgi0/s144-c-o/b0.JPG” href=”https://picasaweb.google.com/108950141967760871064/SpiritualitasBali#5858968998200345682″ caption=”” type=”image” alt=”b0.JPG” ] [pe2-image src=”http://lh6.ggpht.com/-e7397GErnrI/UU89R4yzLNI/AAAAAAAACPM/XiVZ9_luQ-0/s144-c-o/b01.JPG” href=”https://picasaweb.google.com/108950141967760871064/SpiritualitasBali#5858969017744829650″ caption=”” type=”image” alt=”b01.JPG” ] [pe2-image src=”http://lh5.ggpht.com/-fFA-zk_HD9M/UU89TWNIkHI/AAAAAAAACPU/tg_NYGWSgsM/s144-c-o/b91.JPG” href=”https://picasaweb.google.com/108950141967760871064/SpiritualitasBali#5858969042819780722″ caption=”” type=”image” alt=”b91.JPG” ]

5 thoughts on “Daya Tarik Bali

Menurutmu?

%d bloggers like this: