Daging Orang Berpunya

penulis/kontributor: @asdeje

Nggak tahu kenapa, idul adha kali ini kok aku nggak bernafsu makan daging kurban yang dibagikan cuma-cuma. Sampai tadi, sudah ada tiga orang utusan yang nganterin daging ke rumah, ada yang dari RT anu, mushala anu, dan masjid yang entu.

Saat kutanya pada istri apa dia mau ngurusin entu daging, ternyata istriku juga sama nggak bernafsunya. Ya udah, kuputuskan saja untuk membagikan daging-daging itu kepada tetangga yang menerimanya dengan suka cita. Kebetulan aku tinggal di kawasan yang dijadikan markas pemulung dan tukang nasi goreng keliling. So, nggak terlalu sulit untuk menemukan orang yang mau menerima daging-daging itu.

Tetangga yang kuberikan (sebenarnya lebih tepat terkena lemparan) daging itu mungkin menganggap perbuatanku didorong oleh niat yang luhur. Tapi suer kalo mereka beranggapan seperti itu, jelas keliru besar, karena aku nggak sebaik itu. Sebab, faktor utama yang mendorongku memberikan daging itu semata-mata karena aku lagi “gak bisa” (he he soale udah seminggu sakit gigiku kambuh) makan daging, ditambah istriku juga yang lagi gak nafsu “ngurusin” daging. Lengkap kan! Dan nggak ada sedikit pun kemuliaan atau keluhuran seperi (yang mungkin) mereka persangkakan.

Cuma yang aku gak habis pikir kok setiap tahun, setiap kali idhul qurban, polanya selalu berulang. Orang-orang miskin dapat bagian sekadarnya, sedangkan yang berkecukupan dapat bagian semuanya (dapat paha, kepala, kaki, bahkan jeroannya pun diembat juga). Saking sedikitnya bagian yang diterima oleh orang-orang miskin, sampai-sampai kalau daging itu disate, bara api buat ngebakar belum lagi padam, keringatnya (akibat ngipasin) masih berleleran, tapi satenya sudah habis.

Mungkin temanku, MT, punya jawabannya; mengapa polanya selalu dan selalu seperti itu? Lamat-lamat tercium bau daging terbakar, harum, dan merangsang. Tetapi kenapa perutku tiba-tiba terasa mual!!! (CR)

Comment by MT

Mengapa orang miskin kebagian sedikit? Kalo kate Bang Namun, namanye jg orang miskin. Dimana-mana, dalam urusan apa aja, dari urusan kepala sampe jempol, kalo ada orang miskin yang kebagian sedikit harusnya bersyukur atau paling tidak nyengir lah. Karena yang lebih seringnya sih, orang miskin itu ga kebagian.

Mengapa orang berada selalu kebagian banyak? Kalo kate Mpo Geboy, bininye bang Namun, itukan udah biasa. Sejak jaman Fir´autun masih bujangan, yang namenye orang kaya itu cenderung serakah. Walaupun mereka berbuat baik, mereka punya kepentingan sendiri dan sebenarnya mereka tak pernah merasakan nasib yang sesungguhnya dari orang-orang miskin atawe nelangsa. Itu kate mpok Geboy.

Mengapa Pola Distribusi Qurban selalu seperti yang temen gw, CR tulis? Karena yang banyak mengatur Qurban adalah orang-orang kaya, bukan orang miskin. Kebayang gak kalo orang-orang miskin sendiri yang ngurusin qurban? Kalo kate gw sih, seandainya orang miskin yang ngurusin qurban ada 3 hal yang bisa kita tonton: 1. Orang kaya pasti ga dipikirin. 2. Bisa jadi itu daging qurban bukannya didistribusikan, malah jadi barang rebutan. Rebutan paha, pala, kaki, torpedo, bahkan jeroan. 3. Persatuan Indonesia.

Temen-temen yang lain punya komentar?

3 thoughts on “Daging Orang Berpunya

  1. Ini mirip dengan kejadian waktu saya di Medan dulu. Teman-teman berkurban tapi sudah mesan paha dalam, buntut…. terus terang saya malu dengarnya. Kita kan masih bisa beli daging itu, kenapa harus rebutan? Kasih saja semua….

Leave a Reply to @mataharitimoer Cancel reply

%d bloggers like this: