Site Overlay

ASN Jangan Takut Dibilang Radikal

Launching Aplikasi ASN No Radikal dan Webinar Strategi Menangkal Radikalisme pada ASN menuai tanggapan netizen. Khususnya pendapat Menteri Agama.

“Caranya masuk mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk,” 

Kisah Menteri Agama Fachrul Razi dalam webinar ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’ di kanal Youtube Kemenpan RB

Netizen tertarik pada istilah good looking, sehingga jadilah itu bahan “becandaan” di media sosial. Ada juga yang anggap pernyataan Menteri Agama menyudutkan pemeluk agama Islam. Seolah hanya orang Islam yang patut dicurigai radikal. Anggapan ini keluar dari kalangan MUI (Majelis Ulama Indonesia).

“MUI minta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tak mendasar karena itu sangat menyakitkan dan mencederai perasaan umat Islam yang sudah punya andil besar dalam memerdekakan negara ini dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata,”

Wakil Ketua MUI, Muhyiddin Junaidi, kepada detikcom, Jumat (4/9/2020)

Tak bisa dipungkiri, pembahasan radikalisme dan terorisme di Indonesia memang mengarah kepada agama Islam, sebab jejak yang terekam dalam konteks Indonesia memang begitu. Berapa banyak kasus terorisme yang terjadi? Kalau mau diperhitungkan ya memang latar belakang “Islam Ideologis” membabar demikian.

Kukatakan demikian bukan karena membela Menag. Sorry ya. Good looking juga kagak, hehehe…

Menurut catatan sejarah yang resmi dari negara kan emang gitu. Sebagai penganut agama Islam aku nggak bisa menolak. Jadi saranku, umat Islam tak perlu merasa disudutkan dengan pernyataan Menag itu. Lha menagnya juga orang Islam. Sama kayak presidennya, orang Islam juga. Jadi kalem dulu aja. Pahami ini konteksnya bukan soal agama tapi soal kebangsaan.

Cerita dia soal radikalisme masuk melalui good looking dan seterusnya memang tak sepenuhnya benar. Aku memaklumi mungkin itu hanya terjadi di beberapa masjid kementerian dan lembaga saja. Mungkin pak Menteri tahunya begitu. Sebab ada juga yang masuknya nggak dari Masjid, tapi dari parkiran, kantin, pos satpam, ruang pejabat eselon, bahkan boleh jadi dari tukang pijat langganan pejabat maupun ASN. Paham radikalisme –mohon tidak diartikan sebagai kritis terhadap pemerintah– bisa masuk dari mana saja.

Sebenarnya masuknya paham radikal bisa melalui gadget yang dimiliki ASN. Ngapain juga memantau lebih ketat masjid sebagai tempat ritual agama. Lha wong kegiatan di masjid biasanya transparan koq. Maksudnya ada agenda kegiatan, pengumuman, pengajian dan khutbahnya pakai pelantang suara dan sebagainya. Pokoknya gampang diketahuilah. Nah, bayangkan paham radikal yang masuknya melalui gawai!

Hehehe…, jangan-jangan nanti gawai alias gadget ASN bakal disidak atau dimonitor selama memakai akses wifi kantor. Hayo, ASN yang lagi gandrung sama ide-ide radikal atau yang agak kritis terhadap pemerintah, waspada ya! #kompormledug

Seperti yang dikatakan saat launching di youtube, tujuan aplikasi ASN No Radikal ini untuk sarana komunikasi antar ASN semua lembaga dalam menangkal radikalisme. Di dalamnya ada fitur aduan ASN yang terpapar radikalisme agar bisa ditangani oleh kementerian dan lembaga terkait. Program ini salah satu upaya mewujudkan kesepakatan 11 kementerian dan lembaga dalam rangka menangkap sebaran radikalisme di jangan ASN.

Seberapa banyak sih ASN yang diduga terpapar radikalisme? Data Kemenhan 19,4% ASN Menolak Pancasila. Jika jumlah ASN seindonesia ada 4,1 juta jiwa, berarti sekira 800 ribu ASN yang terpapar. Ini wow banget, meskipun Menpan RB belum mau mengungkap data yang didapat dari aplikasi yang diluncurkan kemarin.

Menurutku tujuan webinar kemarin itu bagus. Mereka ingin memberikan pemahaman terhadap ASN tentang pentingnya memahami wawasan kebangsaan dan meningkatnya jiwa nasionalisme sehingga terhindar dari penyimpangan wawasan kebangsaan dan masuknya paham radikalisme pada ASN.

Seperti apa sih indikator terpapar radikalisme di kalangan ASN?

Intinya sih jika ASN bikin kegiatan, ikut kegiatan, atau menyebarkan pendapat baik lisan maupun tertulis dalam format teks, gambar, audio, atau video melalui media sosial yang bermuatan menghasut, ujaran kebencian terhadap Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Pemerintah; Ujaran kebencian SARA; Like, Retweet, Share, komentar; Pelecehan terhadap simbol-simbol negara baik secara langsung maupun melalui media sosial; maka dianggap telah terpapar radikal.

Cukup ribet! Simpelnya gimana dong?

Simpelnya sih, jika kamu ASN dan terbukti tak suka Pancasila dan pro ideologi selain Pancasila, ya kena.

Trus gimana biar nggak kena?

Ya, jangan gampang dipengaruhi obrolan yang mengarah ke ideologi solutif selain Pancasila.

Kalau nggak sadar sedang dipengaruhi gimana dong?

Nggak Papa. Lha wong yang nggak sengaja nyiram air keras aja ada, koq. Tapi ada baiknya selalu menjaga kesadaran. Penting banget terutama untuk menghindari copet dengan modus hipnotis.

Gimana cara menjaga kesadaran?

Gampang. Lu ngaca, trus bilang kalo lu ini ASN yang digaji negara dengan darah dan air mata rakyat, lalu tekadkan bahwa lu akan fokus pada tugas kantor dan lu harus berani menolak korupsi.

Jiah, korupsi. Berat bos! Dylan aja belum tentu sanggup kalo nolak korupsi.

Nah, ini dia indikasi melecehkan Pancasila. Kalau lu bener-bener punya wawasan kebangsaan dan Pancasila, otomatis lu akan berani menolak korupsi. Itu indikator paling gampang.

Masa sih? Kalau anti korupsi itu indikator nasionalis dan cinta pancasila, masa pejabat dan politikus kita pada korupsi?

Siapa bilang mereka paham pancasila? Mereka itu munafik cuma kan karena punya transaksi dan kartu-kartu kuncian ya masih bisa leluasa koar-koar pancasila, sok nasionalis, sok mencium keringat rakyat padahal menjilat pantat big boss.

Asu! Jadi percuma dong saya jadi ASN kalau diancam terpapar radikal tapi yang lain bebas korupsi. Mending saya jadi tentara aja deh.

Hehehe…. Lu pikir tentara nggak ada yang terpapar radikal dan korup?

Duh, bingung. Jadi baiknya bagaimana biar aku jadi ASN yang tak dituduh radikal?

Gampang. Fokus sama tugas sebagai ASN dan jangan takut dianggap radikal. itu sudah!

Menurutmu?

%d bloggers like this: