Wilt U heerlijke Koffie Drinken?

Kudapatkan kopi itu sebagai cinderamata dari Ibuku tercinta. Pertama kali melihat kemasannya, aku langsung terpaku pada tulisan bahasa belanda dengan terjemah dalam bahasa tempo doeloe :

Wilt U heerlijke Koffie drinken?

Aroma en smaak blij-ven goed,
indien U de-Koffie van de zak direct in
een gesloten stopfles of blik overplaast.
niet in de zak laten staan!

Maoe minoem Koffie selamanja enak?

Aromanja dan rasanja tinggal tetep,
kaloe ini koffie soeda di boeka dari kantongnya
harep di pindahken di stofles atawa di blik jang tertoetoep rapet.
Djangan tinggal di kantong!

Sebuah catatan sederhana dari pabrik Kopi yang ada di Jalan Bancey 51 Bandung, yang sejak zaman Belanda menjadi pusat bisnis dan pecinan. Pabrik kopi ini memproduksi kopi terbaik sejak tahun 1930-an. Dirintis oleh Tan Houw Sian, usaha keluarga Kopi Aroma kini diteruskan oleh generasi kedua.

seduhan cara lazim

Langsung saja aku memasak air. Kusiapkan cangkir kopi dan membuka bungkusnya. Alamakjang… aromanya membuatku berharap agar air yang kumasak cepat mendidih. Setelah segalanya siap, 2 sendok kecil bubuk kopi kumasukkan ke cangkir keramik, lalu kuseduh dengan air mendidih. Seperti biasa, kuikuti cara kyai menghidangkan kopi : diamkan dahulu beberapa menit agar kopinya matang, baru setelah itu diaduk.

Warna hitam pekat dan aroma yang menjalari lubang hidungku, membuatku tak tahan untuk tidak menyeruput kopi itu. Rasanya… nikmat dan khas arabica.

Kalau mau tau sejarah Kopi Aroma lebih jelas, baca artikel di  Cikopi.

Tetapi saudara-saudara sekalian *bergaya orator*

Setelah menikmati kopi cara Kang Iwan, yang menyajikannya dengan Moka Pot seperti Bialetti, kayaknya rasa Kopi Aroma akan makin jelas karakternya. Beberapa pekan lalu, kami para peneras #KandangKambing menikmatinya setelah terguyur hujan. Kang Iwan, Kang WKF, Mbak Utami, Mas Fajar, dan special guest Mas Bukik menikmati kopi yang disajikan dengan Moka Pot. Mantap!

Moka Pot Bialetti punya Kang Iwan

Nah, sekarang saatnya memberikan kesimpulan dari dapur CicipiKopi.

  1. Aroma
    Aroma Kopi Aroma sudah terasa sejak bungkusnya dibuka. Ketajaman aromanya setara dengan kopi default kami. Aku memberi nilai 7 buat aroma sebelum diseduh, dan nilai 8 setelah diseduh. Tentu saja aroma kopi ini setelah diseduh terasa lebih memelekkan mata. Nilai rata-rata untuk aroma kopi ini adalah 7.5. Sepertinya merk Aroma sesuai dengan tebaran aromanya saat dinikmati.
  2. Keasaman
    Keasaman bukan satu hal yang utama dalam kopi, tetapi akan selalu terkandung di dalamnya. Aku pernah menikmati kopi Robusta lokal lain di Indonesia yang asamnya amat dominan. Selanjutnya kopi tersebut kuhadiahkan buat tetanggaku seorang perantau, yang suka dengan kopi yang kebetulan berasal dari daerahnya sendiri. Kopi Aroma jenis Arabica ini memiliki keasaman yang cukup dan tidak menganggu. Kuberi nilai 8 buat unsur ini. Subyektif banget, karena aku tak menyukai yang asamnya kuat.
  3. Bubuk
    Bubuk kopi berwarna coklat setelah diseduh dengan cara kampung, rupanya tak ada genangan ampas seperti yang kuduga sejak semula. Keterkejutanku ini menghasilkan nilai 8 buat Kopi Aroma.
  4. Rasa
    Rasa kopi adalah segalanya dan yang paling menentukan apakah kopi layak disarankan untuk banyak orang. Terutama untuk teman-temanku para penikmat kopi. Kopi Aroma memiliki paduan aroma, keasaman, pahit yang cukup cespleng buat para pekerja yang mengantuk di siang hari. Rasa pahitnya bisa dikurangi dengan menambahkan sedikit lagi gula pasir. Nilai 8 buat rasa yang nikmat.
  5. Kemasan dan Harga
    Harga Kopi Aroma Rp.17.500 (250 gr) sebanding dengan kemasannya klasik dan yang penting rasanya. Terbuat dari kertas pembungkus dengan cetakan sederhana.  Nilai 7,5 cukuplah untuk kopi ini.

Simpulanku tentang Kopi Aroma adalah pantas dan berkelas jika dijadikan oleh-oleh jika Anda ke Bandung.

Nilai total 39 menunjukkan Kopi Aroma termasuk kopi yang bernilai baik. Selengkapnya tentang skala penilaian total dapat dibaca pada menu Coffee, di atas.