Seharusnya Senin (28/10) aku meng-update blog ini. Tapi rupanya tak ada sisa tenaga untuk menulis. Pekerjaan menjadi walker di Bali selama 10 hari benar-benar menguras tenaga dan menguapkan konsentrasi menulis. Sempat memaksakan update di ujung Senin. Tepatnya pukul 23.00 WIB. Tetapi memang aku harus memilih untuk memodifikasi bahan yang akan dipresentasikan esok pagi.

Baru jam segini aku bisa menulis blog. Sangat terlambat, tapi tak apalah. Ketimbang tak menulis sama sekali. Lagi pula dalam ranah blog, tak ada keterlambatan yang patut dicemooh. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Begitu justifikasi yang bisa sedikit mendamaikan hati.

Draft yang kubuat pada jam 11 malam tadi sebenarnya tentang seluk beluk kerja tim. Tentang bagaimana memosisikan diri dan menyikapi dinamika tim. Tulisan tentang itu akan kulanjutkan nanti saja, deh. Agak serius gitu dan sepertinya terkesan “menggurui”. Jadi agak malas juga melanjutkannya. Skip aja dulu.

Tulisan kali ini adalah contoh ketidaktahuanku mau menulis tentang apa. Tak ada ide yang benar-benar ajeg untuk ditulis. Kelelahan bisa saja menjadi alasan. Tapi sepertinya bukan alasan yang tepat. Aku memang sedang tak mood untuk menulis. Tak ada yang menarik kali ini selain menyepi dari kerumunan. Menyepi. Ya, itu yang kubutuhkan. Seperti yang aku cuitkan kala menembus pagi menuju Sanur. Temanku menyebutnya Perjumpaan Dua Matahari. Ah, boleh juga. Tapi sebenarnya sepilah yang kucari.

Menembus gelap

Merayu sepi mendamaikan hati

Hanya aku dan sedikit bulan yang tersisa

Dapatkah air matamu menghanyutkan luka?

 

Puisiku adalah diam

Nyanyianku adalah malam

 

Susuri sepi, menanti matahari

Aku di tepi

Masih seperti yang kamu temui di satu pagi

 

Ketika tak ada keajegan dalam menulis, lebih baik mengambil gambar saja. Seringkali gambar lebih banyak bercerita ketimbang kata-kata.