Pak Tito Berseragam…

Ada yang berbincang di busway, tentang sopir ojek online yang ditumpanginya tadi. Katanya orangnya pintar. Ia menceritakan obrolannya soal ketakmengertiannya tentang satu masalah, dan sopir gojek itu ternyata memahami masalahnya dari sudut pandang agama. “nggak nyangka kalo driver ojek itu pinter agamanye.” katanya, penuh pujian.

Begitulah. Anggapan kita tentang sesuatu atau seseorang sering dibatasi oleh indera kita sendiri. Mungkin orang tadi menganggap sopir ojek tak ada yang pandai. Mungkin ia tak ingat bahwa kepandaian seseorang tak selalu dapat dilihat dari penampilannya. Bahkan dari seragamnya.

Pak Tito berseragam tentu berbeda dengan pak Tito kala berkaos oblong. Kebanyakan orang akan bersikap terjaga dan penuh hormat saat pak Tito berseragam. Tapi saat ia berpakaian santai, cenderung lebih santai. Bahkan lapang hati. Itu satu contoh saja.

Contoh lain lagi, pernah dialami temanku. Orang memanggilnya ustadz Faruk karena ia memimpin sebuah pondok pesantren. Suatu hari ada tamu yang datang ke pesantren. Kebetulan saat itu ustadz Faruk sedang menyabit rumput untuk makanan kambing. Sudah tentu ia hanya berkaos. Dekil pula. Tamu itu memang rada kurang sopan. Ia menyuruh penyabit rumput itu memberi tahu ustadz yang ingin ditemuinya. Ustadz Faruk pun meminta sang tamu menunggu di saung dan ia akan memanggilkan ustadz. Ia bergegas mandi dan berpakaian seperti biasanya ustadz pesantren dan menemui tamunya.

Terbayang kan, bagaimana pandangan dan sikap kita terhadap orang cenderung dibatasi oleh indera kita sendiri? Oleh sebab itu, jangan kebiasaan menilai orang lain dari penampilan terutama dari pakaiannya. Kita mana tahu kalau sebelum ngojek, sang sopir adalah seorang manajer di perusahaan, guru, dosen, anak band, penyair, atau bahkan adalah orang yang bijaksana.

Pergaulan kita yang beragam mestinya menginsyafkan kita soal itu. Seorang penjaga parkir di sekolah/kantor bukan orang yang pantas dibentak. Begitupun dengan office boy, dan segala orang yang berjabatan rendah, bukan untuk dimaki dan dihardik. Perasaan mereka sama dengan seorang pemilik perusahaan bejibun. Sama-sama bisa sedih, menangis, marah, dan melawan jika merasa harga dirinya dicekik.

2 Responses

Menurutmu?

Back to Top
%d bloggers like this: