Menilai Kopi Cap Piala

Cicipi Kopi adalah salah satu kegiatan isengku dalam ngeblog. Sejak blog terdahulu (di blogdetik) aku sudah mengulas beberapa merk kopi. Kebiasan tersebut membuatku banyak mendapatkan kiriman kopi untuk diulas, bahkan tidak jarang kubandingkan dengan merk lain. Di blog ini, aku kembali menghidupkan kebiasaan baik ini dengan kategori Cicipi Kopi.

Bagaimana, sih caraku menilai? Sering kali aku tak menilai sendiri. Keberadaan teman sesama penikmat kopi amat membantu kelengkapan penilaianku. Lagi pula, mencicipi kopi sendirian memang enak?

Nah, kali ini yang masuk dapur Cicipi Kopi adalah kopi khas Bogor. Bukan Cap Liong Bulan, tetapi alternatif lain yaitu Cap Piala. Kopi ini mudah didapatkan di warung-warung kecil sekitar Bogor. Harga per sachet cukup murah, hanya Rp.500,-. Dengan harga segitu, boleh jadi Anda akan menduga kopi ini tak ada enak-enaknya. Tapi nanti dulu! Harga segitu hanya berisi kopi saja, belum dicampur dengan gula sebagaimana Kopi Liong Bulan.

  1. Aroma
    Aroma kopi cap piala sudah terasa sejak bungkusnya dibuka. Tetapi ketajaman aromanya memang masih di bawah kopi lain yang pernah kucoba. Aku memberi nilai 7 buat aroma sebelum diseduh, dan nilai 8 setelah diseduh. Tentu saja aroma kopi ini setelah diseduh terasa lebih memelekkan mata. Nilai rata-rata untuk aroma kopi cap Piala adalah 7.5
  2. Keasaman
    Keasaman bukan satu hal yang utama dalam kopi, tetapi akan selalu terkandung di dalamnya. Aku pernah menikmati kopi lokal lain di Indonesia yang asamnya amat dominan. Selanjutnya kopi tersebut kuhadiahkan buat tetanggaku seorang perantau, yang suka dengan kopi yang kebetulan berasal dari daerahnya sendiri. Kopi cap Piala memiliki keasaman yang cukup dan tidak menganggu. Kuberi nilai 8 buat unsur ini.
  3. Bubuk
    Bubuk kopi berwarna coklat kehitaman tetapi tidak pekat. Aku curiga sepertinya kopi ini dicampur dengan jagung. Sudah terbayang akan banyak ampas yang mengambang di permukaan cangkir kopiku. Setelah kudidihkan air, cangkir pun kucelupkan sekitar 9 detik, baru kutuangkan bubuk kopi cap Piala dan kuseduh dengan air mendidih. Kudiamkan selama 3 menit sebelum ditambah 4 sendok teh gula pasir dan diaduk hingga kekentalannya terlihat menakjubkan di permukaan cangkir. Hasilnya cukup mengejutkan. Rupanya tak ada genangan ampas seperti yang kuduga sejak semula. Keterkejutanku ini menghasilkan nilai 9 buat Kopi Cap Piala.
  4. Rasa
    Rasa kopi adalah segalanya dan yang paling menentukan apakah kopi layak disarankan untuk banyak orang. Terutama untuk teman-temanku para penikmat kopi. Kopi Cap Piala memiliki paduan aroma, keasaman, pahit yang cukup cespleng buat para pekerja yang mengantuk di siang hari. Rasa pahitnya bisa dikurangi dengan menambahkan sedikit lagi gula pasir. Tapi buatku satu sachet kopi Cap Piala dicampur dengan 4 sendok teh gula pasir merupakan kombinasi yang cukup nikmat. Nilai 8 buat rasa, baik saat diminum maupun aftertaste. Ya, aftertaste ini penting!
  5. Kemasan dan Harga
    Seperti disinggung di awal, harga Kopi Cap Piala ini cukup murah, Cuma gopek! Kemasannya amat sederhana. Terbuat dari kertas minyak yang sekilas seperti plastik. Sablonan pada kemasan juga amat sederhana. Hanya ada ada tulisan Kopi Cap Piala, gambar piala, netto 8g, produksi: Agus Karsa Pratama, Bogor-Indonesia, dan nomor registrasi kopi. Tak ada penjelasan tentang komposisi kopinya. Nilai 6.5 cukuplah untuk kopi sederhana ini.

Simpulanku tentang Kopi Cap Piala adalah lumayan pantas untuk menggantikan sementara kopi utama Anda. Terutama buat mereka yang demen kopi hitam, kopi piala adalah solusi murah meriah dan cukup nikmat.

Nilai total 39 menunjukkan kopi cap Piala termasuk kopi yang bernilai baik. Selengkapnya tentang skala penilaian total dapat dibaca pada menu Coffee, di atas.

Anda punya kopi lain untuk dicicipi? Sila kirim ke dapur kami. 🙂