Manfaatkan Pamor Ulama

Kedua kubu sama-sama mengklaim didukung ulama. Sebelumnya semua capres selalu menakar dukungan muslim. Sekarang ulamanya langsung yang diusung untuk terlibat dalam kampanye politik kekuasaan. Lalu masing-masing pendukung saling meragukan ulama di kubu seberang. Merasa kubunya yang paling ulama. Yang satu merasa didukung ulama besar dan kalangan thariqah, sedangkan satunya didukung sekumpulan muslim yang menggelar ijtima ulama versi 2.

Beberapa orang dari kubu Jokowi meragukan keulamaan Ijtima Ulama versi 2. Mantan alumni 212 yang merapat ke PDIP pun meragukan kontrak politik ijtima ulama dengan Prabowo. Alasannya, Prabowo mengabaikan hasil ijtima ulama versi 1.

Kubu Prabowo merasa yakin dengan dukungan Ijtima Ulama versi 2 yang dipimpin oleh Imam Besar Rizieq Shihab. Pertalian kepentingan mereka memang sejak lama terjalin. Mereka meragukan kesetiaan Jokowi terhadap kepentingan umat Islamnya mereka. Apalagi isu kriminalisasi habaib dan ulama dan isu komunisme kerap digaungkan oleh kubu ini.

Dukungan terhadap Prabowo pun menjadi sebuah fatwa Imam Besar, yang levelnya naik menjadi sebuah Jihad. Ini adalah bentuk dukungan serius kelompok Ijtima Ulama versi 2 terhadap Prabowo-Sandi yang disingkat menjadi PAS. Dukungan ini tentu membuat kubu PAS percaya diri. Didukung ulama gitu loch.

Aku memerhatikan sejenak. Permainan politik di negeri ini ya, masih dipicu oleh kebencian terhadap lawan, bukan karena spirit menyelenggarakan kebaikan. Persaingan politik tak berangkat dari spirit fastabiqul khairat.

Yakin para ulama di kedua kubu faqih dalam mengelola pemerintahan yang adil dan jujur dan memperbaiki ketidakmujuran rakyat kecil? Apakah pemerintahan tetap saja akan memanjakan para kapitalis dan rakyat yang mujur karena dekat dengan kekuasaan?

Kini jajaram ulama ada di kedua kubu. Aku tak mau menilai mana ulama yang benar dan mana ulama yang saru. Aku cuma memikirkan, apa yang direncanakan para pemangsa kekuasaan dengan melibatkan ulama dalam politik praktis. Apakah Anda yakin Indonesia akan menjadi negara yang lebih relijius dengan adanya ulama atau dengan dukungan penuh ulama?

Jangan terlalu yakin. Bagaimanapun dan sedekat apapun penguasa dengan ulama, tak akan mengubah Indonesia. Jika Jokowi-Ma’ruf menang, Indonesia tak akan berubah dari negara Pancasila. Begitupun jika Prabowo-Sandi menang, aku nggak yakin negara ini bisa lebih syariah sebagaimana yang digaungkan oleh para pejihad dalam kelompok Ijtima Ulama versi 2.

Sebab seperti yang pernah kukatakan padamu, ulama hanya dibutuhkan pamornya, bukan karena kefaqihannya.

Atau, apakah negara ini mau memodifikasi pemerintahannya seperti wilayatul faqih, di mana peran ulama begitu jelas di Iran? Jelas sangat tak mungkin.

#nyinyir