Linimassa 2, Menakar Blogger

3.3 juta blogger, 30 ribu jurnalis. Caption itu muncul dalam tayangan film Linimassa 2 yang kutonton bersama teman-teman blogger, ustadz, dan para santri Pesantren Daarul Uluum Bogor (3/11). Perbandingan antara blogger dengan jurnalis tersebut memantik kegelisahanku tentang bagaimana peran blogger dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik ini.

 

Kita amat maklum dengan keterlibatan para jurnalis dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, realitas politik, ekonomi, sosial budaya, dan dalam banyak sendi kehidupan berbangsa. Para jurnalis yang jumlahnya lebih sedikit ketimbang blogger selalu mengawal perkembangan negeri ini sehingga -dengan beragam medianya- mereka menjadi sumber informasi mainstream. Bagaimana dengan blogger sendiri?

3.3 juta bukan jumlah yang sedikit. Tetapi apakah keunggulan jumlah tersebut sebanding dengan perannya terhadap perkembangan Indonesia? Inilah salah satu kenyataan yang dipotret Linimassa 2, bagaimana kita menakar kembali peran sebagai blogger, pewarta warga.

Film dokumenter yang ditukangi bersama oleh ICTWatch dan Watchdoc itu menampilkan geliat orang-orang yang tak diperhitungkan, namun amat berperan dalam membangun dan menjaga keamanan lingkungannya. Film dimulai dengan potongan pemberitaan TV tentang konflik di Ambon yang ditimpali oleh blogger setempat melalui media sosial. Mereka mengkritik mainstream media atas informasi yang tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di Ambon. Sepertinya TV semakin kebablasan mendramatisasi fakta menjadi berita. Gerakan penyeimbang informasi melalui media sosial ini akhirnya dapat menenangkan warga Ambon yang sempat khawatir dan panik terhadap keadaan di kampungnya. Glen Fredly, penyanyi asal sana bahkan lebih memercayai informasi yang dilansir teman-teman blogger via twitter.

 

Manda (@manda_mande), seorang jurnalis radio berita terpikat dengan para pewarta warga semacam itu. Jadilah Film yang berdurasi tak sampai 60 menit ini, sebagai perjalanan jurnalistik Manda dalam menemui sosok-sosok bersahaja itu, berdiskusi, menelusuri, dan menajamkan informasi di beberapa daerah di Indonesia. Dari Maluku ia terus bersliweran menemui para pegiat radio komunitas PrimadonaFM di Lombok. Berbincang pula dengan relawan PAUD yg konsisten mengajar meskipun kelasnya tak lebih baik dibandingkan kandang kambing. Mengonfirmasi pak Kitanep seorang Jagawana (ranger) yg memotret kerusakan pipa air dan dengan bantuan radio komunitas akhirnya mendapatkan bantuan berkat unggahan foto-fotonya via facebook. Manda juga bertandang ke Le Iwon yang mengembangkan usaha batiknya juga dengan media sosial, desa cyber di Jogyakarta, desa Mandala Mekar di Tasikmalaya, emak-emak yang berkumpul untuk ngeblog, hingga teman-teman difabel dan aktivis HIV/Aids. Perjalanan jurnalistik Manda ini benar-benar membuka mata, betapa internet menjadi amat berharga dan bermanfaat di tangan orang-orang bersahaja namun memiliki visi dan misi yang positif dan mulia.

Film Linimassa 2 adalah alat kampanye yang efektif untuk membentuk opini penonton bahwa Indonesia adalah negeri yang penuh dengan keragaman budaya, keragaman sumber daya manusia, dan keragaman pemanfaatan internet untuk menggerakkan ragam kebaikan. Dunia internasional pasti terbelalak ketika mengetahui seperti apa masyarakat Indonesia bergerak melalui media internet.

kini kita kembali ke blogger. Apakah para blogger yang secara serentak menonton bersama film Linimassa 2 di 54 daerah/komunitas masing-masing (3/11) terinspirasi? Apakah kita tergerak untuk lebih serius meningkatkan kemampuan sbg jurnalis warga, bertindak sebagai penyeimbang informasi dari dominasi mainstream media?

Jika ya, mari berdayakan lagi peran kita, minimal untuk daerah dimana kita berkomunitas. Lebih serius lagi, blogger harus lebih peduli akan persoalan bangsa yang sering direcoki oleh para politikus korup, anggota parlemen yang bodoh dan hedonis, pebisnis yang rakus, dan para pengambil kebijakan yang takluk oleh permainan gangster yang mendesain kerusuhan seenak perut mereka.

3.3 juta blogger kita. Akankah jumlah ini mengubah wajah Indonesia menjadi lebih terhormat, lebih bermartabat di hati rakyatnya sendiri? Mari!