Gadis Pakarena

Peluncuran dua buku terbitan Dolphin petang tadi, Sabtu, 21 Juli 2012 di PDS HB. Jassin memukau banyak pengunjung. Sejak acara dimulai, tak ada suasana serius yang membincangkan buku Pengantin Surga dan Gadis Pakarena, selazimnya acara peluncuran buku. Tak ada moderator yang mengarahkan pada pembahas yang mengkritik maupun memuji kedua buku tersebut.

Justru acara langsung dimulai dengan penyerahan kedua buku tersebut oleh Salahuddin Gz, editor Pengantin Surga dan Khrisna Pabichara, penulis Gadis Pakarena kepada pengelola PDS. HB. Jassin. Terkesan singkat memang. Selepas itu, hadir sepasang pelantun kata indah yang membacakan kisah Layla-Majnun yang merupakan naskah asal sebuah buku yang berjudul Pengantin Surga. “Ini sebuah pementasan seni, bukan sekedar peluncuran buku” gumamku.

Benar saja. Belum juga melayang kekagumanku atas duet Kisah Layla-Majnun, sekelompok seniman berseragam khas daerah mengisi area panggung. Gemuruh tetabuhan gendang dan tajamnya suara alat musik tiup yang dimainkan para seniman “asli” dari Makasar, mengiringi gerakan lembut empat gadis penari Pakarena. Benar-benar terasa suasana sakral berpadu keindahan, yang melatari alunan musik dan gerakan tari Pakarena. Kagum!

Hanya tersisa waktu 15 menit menjelang adzan maghrib, pembawa acara baru memberikan kesempatan kepada Khrisna Pabichara dan Salahuddin Gz, untuk menjelaskan pesan dari buku mereka masing-masing. 15 Menit untuk dua orang, cukuplah sebagai “kultum” jelang berbuka puasa. Tak perlu banyak mengumbar kata-kata nan bertele-tele untuk memaparkan visi dan misi kedua sahabat itu.


“foto by @mataharitimoer”

From Gadis Pakarena & Pengantin Surga, posted by Galeri Koleksi on 7/21/2012 (29 items)

Generated by Facebook Photo Fetcher



Kala malam acara kembali dilanjutkan. Masih ada dua penampilan khas yang ditunggu banyak pengunjung. Yang pertama adalah Musikalisasi Puisi dari Rumah Kata Bogor. Erha Limanov membaca puisi berjudul Tu Masagala, yang diangkat dari sebuah cerpen dalam buku Gadis Pakarena, berjudul Arajang. Agung Zulhen mengiringi dengan Bass Guitar tak berjeda dan Ticco Laksana melayangkan para penikmat puisi dengan petikan gitar.

Puncak acara adalah pembacaan cerita pendek berjudul Gadis Pakarena. Khrisna Pabichara tak membaca sendiri. Ia mengajakserta para sahabat dari Sanggar Juku Eja, yang di awal telah memainkan Tari Pakarena. Jadilah kolaborasi mereka sebagai tontonan yang unik, menggetarkan emosi, dan membius semua orang yang hadir.

Gadis Pakarena adalah karya fiksi Khrisna Pabichara yang menjadi penanda bahwa ia merupakan salah satu penulis roman terbaik di Indonesia saat ini. Buku ini membabar makna dan hakikat cinta, kesetiaan, kerinduan, kebencian, juga angkara murka. Sebuah senarai kisah yang digali dari khazanah tradisi, diramu dalam narasi-narasi tak terperi, seakan hendak menyadarkan kita betapa dekatnya cinta dan benci, tak henti-henti bertarung di ruang yang sangat sempit bernama hati (dolphin).