Di Luar atau di Dalam

Catatan ini hasil obrolan beberapa pekan ke belakang. Obrolan ngalor-ngidul dengan beberapa teman di satu kala berbeda.

Ada temanku yang mengomentari pekerjaan baru teman kami. Menurutnya tempat kerjanya lebih enak, gajinya lebih tinggi, dan fasilitasnya lebih banyak. Ia tak tahu kalau teman yang dimaksud itu belum lama curhat padaku. Pada curhatnya ia menggerutu soal jam kerja yang amat kaku, tak ada perhitungan jam lembur, hanya libur pada tanggal merah, dan setumpuk persoalan yang seolah membuatnya merasa menyesal.

Temanku yang lain pun menggerutui sikap teman kami yang dianggap lupa dengan idealismenya. Beberapa teman kami memang ada yang bekerja di pemerintahan. Ada yang di dalam lingkungan ring satu hingga lord of the ring kesekian di daerah. Beberapa teman lainnya tetap memilih berada di luar, noun hovermen orhanisesyen. Lainnya merasa terhormat kalau disebut aktivis. Ada juga yang makin sibuk dengan urusan parpol. Sisanya, bisnis. Mulai dari bisnis rapalan, gelang, lele, kambing, terubuk, kopi, teh, sampai bisnis ghaib: jualan benwit dan wifi. Ada juga yang jual nasihat.

“aku ini sengaja masuk dalam lingkaran, agar bisa melakukan perbaikan dari dalam.” Begitu kilah temanku di ring satu.

“mana buktinya? Kamu bukannya mengubah mereka, malah kamu yang berubah! Kamu tak ubahnya kaum borjuis yang lupa atas penderitaan rakyat!!!” bentak temanku aktivis yang tattonya bergambar Che Pentura Guevara.

“Emang borjuis ada yang inget rakyat?” Celetuk temanku yang sukanya main gaple.

“Penderitaan rakyat? Penderitaan elu kewlessss!” Celetuk yang kecanduan ngebuzzer.

Sebenarnya semua itu belum tentu benar. Belum tentu ada di dalam lingkaran kekuasaan lantas kamu bisa melakukan apa yang kamu khayalkan. Setiap posisi dan lokasi punya persoalan masing-masing. Nggak ada yang 100% mulus. Nggak ada yang 100% bersih. Ada saja persoalan di dalamnya yang membuat kita lupa sama tujuan sebenarnya.

Yang di luar lingkaran juga gitu. Yakin kamu beneran berjuang demi rakyat? Atau sibuk bikin seminar dan diskusi doang, kumpulkan tanda tangan hadirin buat laporan ke penyandang dana?

Temanku yang di parpol merasa lebih membela rakyat ketimbang teman yang aktivis. Ke mana-mana selalu mengatasnamakan rakyat, wakil rakyat, menjalankan amanat rakyat, dan semacam itulah.

“Atas nama rakyat, itu narasi politik yang lebih fiktif daripada karya fiksi.” Ujar temanku sambil melinting tembakau. Kadang-kadang ia melinting hati pramusaji juga, sih.

Jadi idiom membela rakyat, atas nama rakyat, perubahan nasib rakyat itu benar atau tidak? Aku sih percaya itu benar. Tinggal tergantung skema apa yang dipakai. Apakah mau pakai skema perubahan yang ditawarkan pemerintah, partai politik, ormas, aktivis, pebisnis, atau komunitas. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Masing-masing pun punya persoalannya sendiri.

“Yaelah, John. Kamu pikir gak ada komunitas yang korup? Mau di komunitas kek, di luar pemerintah kek, di dalam kek, ya tergantung tabiat orangnya.” temanku yang satu ini memang selalu nyinyir. Sehari aja dia nggak nyinyir, bisa koma.

“kalo kamu milih di luar apa di dalam, Te?”

“Meskipun di dalam lebih enak, tapi sebaiknya di luar aja biar nggak berisiko. Tapi kalau ada saatnya memang harus di dalam, ya jangan di luar terus.”

Jadi teman, tak perlu merasa lebih baik dan lebih bermartabat. Masing-masing jalan saja sesuai jalur yang dipilih. Utamakan kongkalikong kerja sama ketimbang saling cela. Belum tentu yang berjuang di luar lebih mulia ketimbang yang di dalam. Begitupun sebaliknya.

Ah, sudah sampai halte busway tujuan

featured image by @banyumurti

9 Responses

  1. Lagi lagi berat ni topiknya, dibuat sederhana walau tidak sesederhana dibacanya.
    Semua punya peran, klo semua di dalem, siap yang diluar?
    Yang penting setiap peran yang dimainkan adalah peran yang dihayati dengan ketulusan jiwa, bukan ujung-ujungnya duit, mengorbankan wajah dengan memakai topeng kepalsuan demi ambisi (*bisa) kekuasaan, harta dan #eh wanita

  2. Bingung mau komentar apa
    Keliatan topik sederhana tapi serius nih
    Wis lah jalani hidup masing-masing
    Gak penting mikirin siapa
    Jadi orang baik dan jujur saja, itu sudah cukup

  3. temenku juga ada yang bilang “Kalo kamu resign nanti yang se-visi misi untuk membuat perubahan dan mengubah apa yang seharusnya diubah jadi tinggal aku dan segelintir orang dong!” kalo bukan kita siapa lagi?

    ya udah kamu aja deh yang kerja keras mengubah kebiasaan

    aku lelah di dalam, di luar aja biar meminimalisasi risiko 😀 😀

  4. Dulu saya kuliah di FISIP, beberapa tmn ada yg “masuk” yaaaa akhirnya ya “ikut arus”. Yg aktivis2 sebagian ada yang dah jd biasa2 aja, mumet kali ya mikirin kerjaan dan keluarga hehe 😀

  5. pembukaannya asyik.. lalu makin ke bawah aku makin bingung. ini sebenarnya sasarannya ke siapa?
    dalam dan luar itu kan hanya terpaut satu inci saja bang. kalao lewat maka berbuahlah dia.. eh, berubah lah dia

    1. sasarannya ke teman-teman yang saling menjelek-jelekkan antara yang ada di dalam lingkaran dan di luar lingkaran. padahal, bisa saja mereka tetap bekerja sama melakukan perubahan dari dirinya sendiri lalu sama-sama saling mendukung perubahan di posisinya masing-masing, yang jangan dilupakan adalah setiap posisi punya hambatan dan resiko.

Menurutmu?

Back to Top
%d bloggers like this: