Di Balik Kehebatan 212

Keberhasilan sebuah rencana ditentukan oleh siapa yang ada di belakangnya. Kita boleh melihat para tokoh yang tampil di permukaan, tokoh yang menjadi idola masyarakat. Mereka tampil memukau dan memengaruhi masyarakat. Siapa di belakang para tokoh tersebut? Inilah yang perlu kita ketahui juga. Ini yang biasanya aku selisik.

Sebelum menonton Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 yang rilis pada 30 Agustus 2018, aku mencari tahu dulu siapa yang membuat screenplay. Apakah penulisnya orang yang mumpuni dalam cerita silat atau tidak. Selisikku menemukan nama orang yang kukagumi kemampuannya dalam penulisan cerita silat. Itupun kulakukan dulu, sebelum menonton film Pendekar Tongkat Emas (Miles Film, 2014).

Ada Seno Gumira Ajidarma sebagai penulis di Wiro Sableng ini, selain Tumpal Tampubolon dan Sheila Timothy. SGA merupakan jaminan bagiku untuk menonton film silat. Sudah terbayang akan ada kedalaman makna dari dialog maupun narasi di film ini. Benar saja, saat kutonton, narasi dan dialog film ini tergarap dengan bagus.

Tapi bercandanya koq kekinian? Masa sih zaman dulu Wiro biasa bilang “keren” dan kenal Syahrini saat menyebut nama Anggini? Itulah sablengnya film ini. Namanya juga mengangkat film dari novel lawas buat tontonan generasi milenial, ya bercandanya juga harus kontekstual dong. Menurutku malah bagus. Bayangkan kalo Wiro menyebut Anggini sebagai, artis jadul di zaman novel dituliskan, misalnya Betharia Sonata. Dijamin penonton nggak ada yang ngakak. Sebab mungkin kebanyakan nggak kenal siapa nama yang disebutkan Wiro.

Selain nama penulis, ada sekitar 180 shot yang perlu diberi sentuhan visual effect dan itu dikerjakan oleh 99 Visual Effect Artist asli Indonesia.Yups, banyak banget anak Indonesia yang terlibat dalam menggarap visual efek di film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Ini merupakan pembuktian bahwa kualitas mereka sudah bagus dan tentunya diharapkan akan menunjang perfilman Indonesia ke depan. 

Kostum juga penting banget di film yang setiap tokohnya memiliki ciri khas. Kostum tergarap dengan baik dan tak mengecewakan. Begitupun dengan make up artist. Salut banget bisa mengubah Ruth Marini yang cantik menjadi Sinto Gendeng sesuai dengan imajinasiku saat dulu membaca novel karya Bastian Tito. Tua, serem, dan ah, pokoknya keren abis deh film ini di segala lini pendukungnya.

Film Wiro Sableng menampilkan aktor dan aktris yang kuat dalam memerankan karakter pendekar maupun tokoh kerajaan. Itu pun jaminan kenapa aku harus nonton film ini. Malah aku nggak nyangka @Andirif begitu sempurna memerankan Dewa Tuak. Kalau aktor yang lainnya sih, gak usah diragukan.

Terus filmnya sendiri gimana? 

Aku suka banget adegan permulaannya. Adegan sebelum Mahesa Birawa dan gerombolan bandit pimpinan Kalingundil menyerbu Jatiwalu, kampung di mana orang tua Wiro tinggal dan dibunuh. Sebuah permulaan yang mengesankan!

Mahesa Birawa dan Gerombolan Bandit Kalingundil. Keren banget mereka diri di bawah bulan purnama. 

Pengen sih film Wiro Sableng 212 ini digarap seperti film the Avengers, yang tokohnya tampil satu-satu di setiap sekuel. Tapi tentunya itu butuh modal gede banget. Ya, kalo bisa sih, sableng banget! Tapi paling tidak, film ini menyajikan mid credit scene seperti the Avenger, yaitu permunculan Pangeran Matahari. Kebetulan saat film ini kelar, aku penasaran akan ada clue lanjutannya apa nggak, eh ternyata benar sodara-sodara! 

Kali ini kita kalah. Jangan gegabah, Anom! Kau harus menguasai kitab wasiat iblis!

Abimana Aryasatya sebagai Pangeran Matahari muncul di mid end scene 

Bagaimana tanggapan para penggemar Wiro Sableng atas film yang per 7 September 2018 tembus 1 juta penonton ini?

Macem-macem. Meskipun ada yang suka banget, ada juga yang merasa film ini terlalu memaksakan semua tokoh pendekar muncul di satu film. Mungkin mereka maunya film ini tampil seperti sebagaimana yang ada di novel. Soal pendekarnya pun kurang terlalu ditampilkan jurus-jurus mautnya.

Aku sendiri sebelumnya membayangkan bagaimana Iblis Pencabut Sukma berlaga. Tetapi ternyata duelnya kurang keren sih menurutku. Jurus Pukulan Pencabut Sukmanya nggak tergarap dengan detail. Ya, namanya juga film pertama yang mungkin ingin menampilkan semua tokoh, jadi musti bagi-bagi durasi.  Banyak koq tokoh yang memang kurang tergarap jurus-jurus detailnya, tapi ya aku sih tetap terhibur dengan film ini. Tetap salut dan berharap film kedua, ketiga, dan seterusnya banyak memerhatikan masukan dari para penggemar novel Wiro Sableng.