Demokrasi dari Kampung

Menarik melihat maklumat yang kubaca di tembok beberapa rumah di kampungku. Sebuah pengumuman yang dikeluarkan oleh KUPRET (Komisi Umum Pemilihan Ketua RT), agar seluruh warga RT.04 RW.05 Kelurahan Baranangsiang, Bogor, Ikut memilih dalam PILKARET (Pemilihan Ketua RT).

Rupanya inisiatif PILKARET muncul dari RT yang saat ini sedang menjabat, Mang Uwo, yang bernama resmi Abdulloh dan selama ini dipanggil Erte. Ia ingin sekali menumbuhkan semangat demokrasi di RT-nya. Sudah 10 tahun ia menjabat sebagai RT karena aklamasi warga setempat. Menurutnya, jika tradisi tersebut dipertahankan, maka kurang bagus dalam mendidik warga berdemokrasi. Inisiatif tersebut disambut baik oleh kalangan pemuda RT 04/05 yang segera membentuk kepanitiaan yang mereka sepakati bernama KUPRET (Komisi Umum Pemilihan RT).

Ketua KUPRET, Ustadz Fauzy Ba’ats mendukung PILKARET karena menurutnya warga di RT 04 ini bagaikan miniatur Indonesia, dengan beragam suku dan agama yang hidup rukun dalam keberagaman.

“Presiden, Gubernur, Walikota, mestinya belajar demokrasi dari PILKARET ini. Dimana pada saat kampanye kemarin, setiap calon bukannya saling menuding dan mengangkat keburukan lawannya, justru saling memuji dan mendukung calon lainnya. Ini jelas tak kita lihat dalam realitas politik di Indonesia yang penuh intrik dan saling menjatuhkan.” tegas Ustadz Fauzy.

Turut hadir dalam perhelatan akbar warga RT 04/05 petugas dari BABINSA, yang menyampaikan dukungannya atas kegiatan politik yang amat positif di kampung ini. Sebagai pembantu keamanan dan ketertiban lingkungan, Pak Feri Babinsa mendukung semua calon namun tak ikut memilih karena beliau bukan warga setempat.

Yang juga menarik adalah kehadiran Mang Tabrani, Calon Ketua RT yang MENCRET (menolak dicalonkan jadi RT). Ia lebih membuka peluang untuk kalangan muda agar masa depan RT lebih fresh dan maju dan meminta agar setiap warga bebas menjadi DUNGDUNGPRET (Pendukung-Pendukung para Calon RT).

PILKARET dimulai sejak pukul 8 pagi dan berakhir saat penghitungan suara, pada pukul 1 siang. Hasilnya, Uwoh terpilih kembali menjadi RT dengan 111 suara dan Edi rela memberikan  dukungan kepada RT terpilih, karena hanya mendapatkan 68 suara.

Begitulah demokrasi yang ada di kampungku. Bukan hanya kelucuan dan keunikan yang bisa kulihat dari mereka, melainkan sebuah cermin agar para tukang-tukang politik di tingkat atas, dapat menghikmahinya. Terutama tidak menjadikan jabatan sebagai kekuasaan yang menipu rakyat, sebagaimana yang bisa kita lihat selama ini. Cukuplah kemarin mereka menipu rakyat dengan bualan visi dan misi, yang pada akhirnya menguatkan barisan dari recokan Komisi Pemberantasan Korupsi.

pil 1.JPG pil 2.JPG pil poster 4.jpg pil poster 5.jpg pil poster 6.JPG pil poster 3.JPG pil poster 2.JPG pil poster 0.JPG pil poster 7.JPG pil 3.JPG pil 4.JPG pil 5.JPG pil 6.JPG pil 7.JPG pil 8.JPG pil 9.JPG pil 10.JPG pil 12.JPG pil 13.JPG pil 14.JPG