Ini sekadar kegelisahanku pada masa tenang PEMILU. 6 s.d. 8 April 2014 adalah masa tenang PEMILU 2014. Sejak berakhirnya debat capres-cawapres pada Sabtu, 5 Juli 2014 hingga kini, para pendukung masih saja saling riuh di media sosial. Sebenarnya kampanye pada masa tenang dilarang nggak sih? Yang kucuplik dari cuitan seorang Lawyer, Ahmad Zakaria (@za_ka) ia menyatakan, dalam masa tenang dilarang kampanye dalam bentuk apapun dan tidak ada pengecualian untuk media sosial. Aku tak paham soal hukum, karena itulah aku mencari pernyataan seorang yang paham hukum.

Boleh jadi PEMILU tahap Pemilihan Presiden 2014 ini merupakan PEMILU yang paling keras persaingannya. Tak adanya calon lain selain Prabowo dan Jokowi membuat perseteruan pendukung terkesan fanatik. Saking semangatnya, sampai seolah-olah apa yang mereka pilih adalah kebenaran satu-satunya sedangkan yang dipilih orang lain adalah satu-satunya keburukan. Mengenaskan tapi inilah potret politik kita.

Perseteruan di media sosial tak perlu lagi kuulas. Sudah cukup banyak teman-temanku menuliskan perseteruan antar teman jejaring sosial hanya karena berbeda pilihan calon Presiden. Aku hanya akan menulis tentang apa kenapa aku ikut memilih dan siapa yang akhirnya kupilih.

 

“Ketika di atas, banyak teman yang mengenal kita. Ketika di bawah, kitalah yang mengenal siapa teman yang sebenarnya.”

~ Idang Rasjidi, Maestro Jazz Indonesia

Kutipan pernyataan di atas dilontarkan Idang Rasjidi, dalam acara syukuran ulang tahunnya yang ke-59 tahun. Sebuah perhelatan acara yang sederhana namun tetap memikat. Gerimis0 Kota Hujan menyertai acara yang dibuka dengan 2 persembahan musik jazz oleh Three Song, dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh teman-teman Malam Puisi Bogor, Teater yang mengisahkan Idang Rasjidi kecil oleh Teater Jamban, performance dari Idang Rasjidi Syndicate, dan obrolan penuh canda namun mendalam untuk direnungkan.

Hari ini 9 April 2014 Pemilihan Umum Legislatif serentak dilaksanakan. Mulai pukul 7 pagi rakyat yang ingin memilih akan berkumpul di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Satu hal yang berkali-kali kunyatakan, apakah PEMILU 2014 akan terancam oleh apa yang ditakutkan banyak orang Parpol: GOLPUT?

Seperti PEMILU sebelumnya, aku berani bertaruh. PEMILU akan tetap berjalan dengan baik. GOLPUT yang tak terorganisir tak akan memengaruhi proses pemilihan Anggota Legislatif maupun pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Seperti yang kutuliskan dalam Catatan Pemilu “Jangan Takut GOLPUT”, kekhawatiran penyelenggara PEMILU maupun Parpol terhadap GOLPUT terlalu dibesar-besarkan. Aku yakin rakyat Indonesia amat mudah diajak memilih seperti mudahnya diajak untuk diam. Lagi pula, apakah GOLPUT pernah menggagalkan PEMILU di Indonesia? Tidak! Justru yang sering merecoki pemilu adalah para kontestan sendiri yang berlaku curang dalam mencapai kemenangan. Jadi, saranku, jangan takut terhadap GOLPUT. Lebih baik awasi dan bertindak tegas kepada para peserta PEMILU yang melanggar aturan kampanye.