Tak perlu mengukur kebaikan dari sumbangsih thd bangsa dan negara. Lebih tak perlu lagi mencerca orang yang dipercaya, untuk bekerja demi bangsa dan negara.

Biarkan mereka yang menjadi presiden, wapres, menteri, staf ahli, yang membawakan tas, anggota dewan, dll., bekerja. Berikan mereka kesempatan untuk unjuk kerja.

Hari ini perhatian Indonesia tertuju pada sosok sederhana dan sekilas terlihat culun: Jokowi. Kesederhanaan Jokowi terbukti menarik banyak warga yang kadung disebut sebagai relawan, mendukungnya menjadi Presiden RI Ketujuh. Keculunannya di mata para pembenci membuat proses pemilihan presiden menjadi ramai dan agak menegangkan. Maki-puji berbaur di bumi Indonesia. Dukungan dan hinaan melengkapi sebuah proses politik yang belum pernah terjadi selama aku menyaksikan Pemilu sejak zaman Orba.

Hari ini sosok yang didambakan dan dicibirkan akan diambil sumpahnya sebagai Presiden Republik Indonesia Ketujuh. Bagaimanapun secinta apa kalian terhadapnya, sesebal apa kalian membencinya, Jokowi adalah Presiden kita.

Aku sampaikan apa adanya kepada kalian. Aku adalah orang yang paling sering kalian ingat kebengisannya. Tetapi kalian sebenarnya lupa, akulah yang menyadarkan betapa bangsa ini harus berani melawan kesewenangan. Bukannya aku ingin menyombongkan diri. Bukan! Apalah arti kesombongan buatku. Aku sudah pernah melewati masa itu. Jauh sebelum kalian menjadi cairan yang membentuk rupa kalian sekarang. Bahkan jauh sebelum itu, anak muda!

Masa kesombonganku sudah lewat. Apa yang tak bisa dilakukan orang lain, selalu bisa kulakukan. Mengandalkan kekuatan orang yang dulu paling ditakuti di jagad ini, apa pun yang kuinginkan, tak pernah gagal. Jika pun ada yang mencoba menggagalkan, biasanya mereka sudah mati sebelum selesai merencanakan aksinya. Dengan kehebatan tak tertandingi seperti itu, kesombongan tak ada artinya lagi bagiku saat ini.