Seperti keramaian dan aktivitas online lain yang bergerak sejak jelang reformasi di Republik ini, Amang adalah salah satu pemicunya. Begitu pun perkara makan gudeg di Manggarai. Ia yang memicunya lewat Twitter. Buktinya adalah sebuah cuitan yang orang awam sepertiku pun tahu kalau itu adalah ajakan. Provokasi, kalau kata Aparat Penegak Hukum.

Beberapa kali ke Kota Tua tak pernah membosankan buatku. Ketika SD aku pertamakali ke Museum Fatahillah yang pada mulanya sebuah gedung Balai Kota Batavia. Pernah juga kusambangi Museum Bahari, Menara Syahbandar yang Tersisa dari pagar benteng VOC untuk memantau lalu lintas di pelabuhan Sunda Kelapa, Bangunan lain yang saat ini berfungsi sebagai Museum Wayang, Museum Keramik, Cafe Batavia, dan Kali Ciliwung sebagai lalu lintas utama segala perkara yang dilakukan oleh VOC dari Pelabuhan ke titik terdalam Batavia. Termasuk beberapa bangunan tua lainnya yang belum kuketahui kisah lampaunya.

Netizen yang sering kelayapan, biasanya membutuhkan informasi tentang tempat menginap dan makan. Di mana saja mereka berkunjung, lokasi kuliner biasanya menjadi pertimbangan. Apa lagi kalau kelayapan ke Bandung, yang mana kota tersebut semakin popular sebagai surganya kuliner dengan beragam makanan. Mencari informasi pun mudah. Tinggal “googling”, dengan kata kunci “kuliner di Bandung”, akan mudah mendapatkan rekomendasi dari blog kuliner terutama blog personal. Aku sih lebih suka membuka informasi dari blog personal, karena biasanya lebih blak-blakan isinya. Jika kurang enak, ya ditulis apa adanya. Jika enak dan nyaman, pasti diceritakan dengan personal banget.