Berkah Kijang Istana Bogor

Salah satu hiburan bagi warga Bogor adalah memberi makan kijang dari balik pagar Istana Bogor. Bukan hanya balita yang menikmati hiburan tersebut, tetapi banyak juga kalangan remaja bahkan orang tua. Ramainya hiburan sederhana seperti itu bisa dijumpai setiap hari Sabtu dan Minggu.

Kalau dipikir-pikir, apa enaknya sih memberi makan sekawanan Kijang Istana Bogor? Belum lagi makanannya, berupa wortel dan atau kangkung harus dibeli sendiri. Ya, kalau dipikir-pikir memang banyak terasa anehnya. Karena itu kegiatan liburan sesederhana itu tak perlu dipikir-pikir, coba saja, maka akan terasa bagaimana asyiknya.

Konon, mengajak anak memberikan makanan pada binatang bisa membentuk anak menjadi pribadi yang tidak egois, lebih peka terhadap lingkungan, dan menjadi sosok yang punya empati dan penyayang. Karena itu tidak sedikit orang tua yang mengajak anaknya memberikan makanan kepada binatang, seperti yang sering terlihat di depan Istana Bogor ini.

Tentu saja dimana ada tempat berkumpulnya warga, ada saja orang yang mendapatkan limpahan berkah. Salah satunya adalah mas Agus, yang berjualan Wortel dan Kangkung untuk makanan Kijang. Para pengunjung mau tidak mau akan membeli makanan agar bisa berinteraksi dengan Kijang dari balik pagar. Harganya tidak malah, seikat wortel dan seikat kangkung cuma seribu Rupiah.

“Kalau hari biasa begini, seperti sekarang hari Senin, sepi. Kalau hari Sabtu sampai Minggu, baru ramai. Keuntungan bisa lebih banyak. Apalagi kalau lagi lebaran.” Ungkap mas Agus sambil menggabungkan beberapa batang wortel dalam satu ikatan.

“Mas Agus setiap hari mangkal di sini?” Tanyaku

“Tidak. Biasanya saya cuma jualan hari Sabtu dan Minggu saja. Nah, yang mangkal setiap hari di sini itu orangnya, kang Herman!” Tunjuk mas Agus kepada seorang lelaki paruh baya yang sedang menyebrang jalan dengan bopongan kangkung dan wortel di pundaknya.

“Lho, kalau biasanya jualan hari Sabtu dan Minggu, kenapa sekarang tetap berjualan? Kan sekarang hari Senin?” tanyaku iseng.

“Kebetulan lagi butuh uang tambahan. Jadi, saya ke sini aja. Kan sudah pasti seikat dapat seribu rupiah. Kalau saya bisa jual 100 ikat, berarti dapat 100 ribu Rupiah.” Wah lumayan besar juga nih omset berjualan wortel dan kangkung.

“Kang Herman tak masalah jika ada orang lain yang berjualan kangkung dan wortel di tempat mangkal, akang? Kan Akang yang biasa berjualan setiap hari di sini.” Tanyaku

“Saya memang mangkal setiap hari di sini, tapi ini kan bukan tempat kekuasaan saya. Biar aja. namanya juga sama-sama usaha, rezeki nggak bakalan ketuker.” Jawab Kang Herman yang baru saja meletakkan bopongannya di pinggir pagar Istana Bogor.

“Ada preman yang suka minta uang selama berjualan di sini?”

“Tak ada. Di sini, aman dari yang begituan.”

Baguslah jika usaha yang dilakukan oleh warga seperti Kang Herman dan Mas Agus tak mendapatkan pungutan liar dari preman atau pun oknum keamanan. Karena di beberapa tempat ada saja warga yang harus membayar pungli agar bisa mangkal untuk menjajakan dagangannya. Bahkan seolah-olah pungutan liar itu lama-lama dianggap wajar oleh mereka yang sama-sama terlibat, baik dari pihak oknum maupun korban.

Usaha kecil yang dilakukan oleh mas Agus, Kang Herman, dan para penjual wortel dan kangkung di Istana Bogor ini bisa dibilang merupakan berkah Tuhan atas daya tarik Kijang Istana Bogor. Jika tidak ada kawanan Kijang tersebut, boleh jadi mereka tak akan berjualan di sekitar pagar Istana. Itulah kehidupan, kadang kita mendapatkan rezeki melalui sesuatu yang amat sangat sederhana, yang boleh jadi menurut orang lain tak penting.