Bebaskan Jarimu

“Jarimu, Pilihanmu” Begitu kira-kira dugaan orang yang melihat foto kita. Beberapakali aku mendapatkan komentar yang mengaitkan pose jariku saat berfoto dengan pilihan politik. Padahal sebelum musim kampanye -terutama pilpres-, kita bebas mengekspresikan diri dengan jari. Ada yang suka mengacungkan jari telunjuk saja, ada juga yang dua jari (jari telunjuk dan jari tengah, maupun jari telunjuk dan jempol). Jari yang menunjukkan simbol 1 pasti dikaitkan dengan pilihan terhadap Jokowi-Ma’ruf, sedangan 2 dianggap mendukung Prabowo-Sandi. Brengsek banget musim kampanye ini, sampai-sampai jari kita pun dicurigai.

Foto ini contohnya, yang kutampilkan di Instagramku. Ada saja teman yang curiga kalau jari di foto tersebut mengandung #kode pada pilpres. Padahal pada caption di foto tersebut jelas-jelas tak menyoal pilihan politik. Bahkan Mas Tafsir, yang duduk di sebelahku termasuk orang yang masa bodoh dengan hiruk-pikuk kampanye Pilpres. Baginya yang penting Indonesia damai, ia bisa keliling Indonesia dengan vespa-nya dengan rasa damai, terutama saat mampir ke komunitas di tiap daerah.

“Pilpres ini bikin kita nggak bebas selfie!” Gerutu salah seorang teman yang hendak berselfieria denganku (groufie) di Bengkulu.

Kubilang padanya, “Bebaskan jari kita dari belenggu politik! Silakan selfian tanpa kuatir dianggap dukung Prabowo atau Jokowi!”

“Cekrek!” Kamipun kelar selfian.

Ini contoh foto bagaimana aku biasa berpose menunjuk ke arah kameramen. Sama sekali tak ada tujuan politis. Bahkan di antara kami yang berfoto di atas ada yang ngefans banget sama Prabowo di kubu nomor 2.

Nah, foto ini mau dianggap apa? Akurnya pemilih Jokowi dan Prabowo? Ya, silakan saja. Yang jelas kami yang berpose di foto tersebut nggak mikirin Jokowi atau Prabowo. Ngapain juga mikirin mereka, lha wong mereka sudah punya timses dengan anggarannya masing-masing. Kami rakyat jelata sih, asyik-asyik saja berpose. Bagi kami, pilihan politik adalah hak setiap orang. Tak perlu mencurigai apalagi menganggap orang yang berbeda pilihan politik itu salah. Seperti saat Yusril Ihza Mahendra bersedia jadi lawyernya kubu nomor satu. Ada saja kubu nomor dua yang nyinyir. Anggap YIM apalah. Seperti twitan ini, yang dikomentari berbagai nyinyiran followernya.

Dulu, waktu Ahok vs Anis, netizen juga ramai karena pilihan Panji ke Anis. Lha, padahal itu kan hak dia mau dukung siapa. Koq netizen kita nggak berani berbeda pilihan.

Kembali ke soal jari. Mending tetap bebaskan jari kita dalam berpose. Kan nggak enak banget bro, kalau mau selfie aja pakai diatur-atur segala. Jadi ingat video saat pengawal Jokowi meminta lelaki yang selfie di sebelah presiden mengubah dari 2 jadi 1 hehehe…

Nih, aku punya foto sama “orang gila” Madiun, pakai jari 2 pulak hahaha