In time, you will know what it’s like to lose. To feel so desperately that you’re right, yet to fail, all the same. Dread it. Run from it. Destiny still arrives.” ~ Thanos to the Avengers in the Infinity War.

Pesan yang jleb banget dari Thanos buat para pembela kebenaran. Avengers: Perang yang Nggak Kelar-kelar, sebuah film tentang perjuangan komplotan jagoan dalam jagad Marvel.

Tulisan ini tak diniatkan sebagai review atas film tersebut. Cuma lintasan iseng saja sehabis menemani anak-anak yang merayu ngajak nonton film Marvel. Mereka sih, emang kepengen karena mengikuti cerita komplotan Avengers. Aku, terus terang, baru kali ini mau nonton setelah “dibujuk” Miki, “di Avengers ada Spidermannya, Yah!” Dia tahu kalau ayahnya ngefans sama Spiderman. Ya, sudahlah, akhirnya nonton. Lha, film Minion dan Spongebob aja, aku nemenin nonton, masa Avengers nggak. Alesan!

Sejak awal menikmati film ini, aku mikir, apa sih yang bikin mereka berperang. Maklum, sebelum nonton film ini, sama sekali aku nggak baca sinopsisnya. Sebab memang nggak begitu tertarik. Niatnya cuma nemenin anak-anak aja atau bobo adem kayak waktu nemenin nonton Spongebob.

Para jagoan itu berkomplot melawan Thanos dan komplotannya yang amat loyal. Emang kenapa Thanos dikerubutin? Rupanya Thanos adalah tokoh yang dianggap jahat karena ingin mengatur semesta sesuai kehendaknya. Padahal Thanos mikirnya simpel, untuk menjaga keseimbangan kehidupan, memang harus menghancurkan sebagian kehidupan. Tak ada cita-cita tanpa mengorbankan yang lainnya. “Itulah hidup, nak!” pesan Thanos kepada Gamora, anak angkat yang disayanginya.

Thanos punya idealisme sendiri tentang bagaimana kehidupan ditata olehnya. Ia berupaya menjadi tak terkalahkan dengan merebut serangkaian batu jimat. Ada 6 batu yang harus ia rebut dengan segala cara agar tujuannya tercapai.

Jadi ini film cuma soal rebutan batu akik? Terlintas begitu sih, saat ngeh ternyata kekuatan para pengejar kekuasaan tetap saja bertumpu pada mitos keajaiban batu. Apakah benar keenam batu yang akhirnya dikoleksi Thanos dapat membuatnya menjadi penguasa tunggal jagad raya.

Gokil, ya ternyata film Avengers ini menyiratkan bahwa peperangan terjadi, pembunuhan dan segala pembantaian korban mudah saja terjadi hanya demi batu bertuah. Beruntung di jagad nyata, terutama di Indonesia tak sampai kejadian saat batu akik begitu menghipnotis banyak orang. Nggak ada yang sampai menghalalkan segala cara demi batu akik yang juga dibungkus dengan pelbagai mitos dalam strategi pemasarannya.

Di sini orang ribut bukan karena batu, tapi karena kursi kekuasaan. Orang rebutan dan rela mengorbankan rakyat (yang tak mendukungnya) demi kursi di parlemen, demi kursi di kabupaten dan kotamadya, demi kursi di kementerian, dan demi kursi presiden. Masing-masing kelompok merasa paling benar dan paling berhak dipilih dengan saling menjelek-jelekkan lawan. Komplotannya lebih gila kelakuannya dibanding tokoh idolanya. Ultra! Susu? Bukan. Lu tau dah kamsudnya.

Aku teringat pilpres periode lalu antara Prabowo versus Jokowi. Sampai hari ini para pendukungnya nggak kelar-kelar musuhan. Bahkan sepertinya akan berlanjut pada seri 2019. Semacam Pilpres Infinity War gitu.

Tinggal kita tunggu saja apakah serial pilpres masih mempertarungkan kubu Jokowi dan Prabowo, atau muncul lawan lain yang awalnya malu-malu anjing namun akhirnya berani tampil di antara 2 kubu dalam perseteruan mainstream itu.

Singkat kata, akhir dari Avengers Infinity War keren juga sih. Ini mah persepsiku ya. Bebas ajakan. Setelah dihajar dengan Palu Thor, Thanos lenyap dari medan tempur. Diikuti beberapa tokoh pun lebur seperti remah roti tertiup angin senja. Mengharukan memang buat penggemar The Avengers. Lalu tiba-tiba Thanos terlihat sedang tafakur, merenungkan diri di sebuah persawahan yang hijau subur. Apakah Thanos beralih jadi petani? Atau lagi tadabur alam? Hahaha, pasti ini pertanyaan bego. Tapi sepertinya dari persawahan hijau nan indah itu, Thanos akan kembali membuat perhitungan. Sebab namanya juga perang yang nggak kelar-kelar kayak perang para politikus di sini.

Thanos bakal balik lagi..

Seperti itu yang disampaikan pada bagian akhir film setelah credit tittle dan saat ruangan bioskop hanya menyisakan beberapa orang saja, sebab yang lain langsung bubar saat kredit film muncul.

Akhirnya, apa yang Thanos katakan buat The Avengers kembali pada diri sendiri. Pun penting banget kalau direnungkan oleh para kontestan pilkada, pilkadut, dan pilpres di Indonesia. Walaupun gue sangsi mereka punya waktu buat merenung.

“In time, you will know what it’s like to lose. To feel so desperately that you’re right, yet to fail, all the same. Dread it. Run from it. Destiny still arrives.” Goooks! Thanos keren kan quote-nya. Wisdom dari Thanos ini bisa dijadiin #qotd nih di medsos.